RSS

Menikmati Diam

SIANG baru saja beranjak
Waktu bergeser mendekati senja yang anggun
Aku duduk di bibir dipan
Tertegun!

Aku sekali lagi tak punya kata
dan hampir kehabisan suara
Terlalu terperangah
tapi juga berbunga
Apa yang harus aku katakan kalau kamu jadi aku?

Saat itu rasanya ingin aku berjingkrak
juga berteriak
Bila perlu menari tiada henti
tanpa ingin mengucap sepatah kata pun

Angin dingin memukul-mukul ragaku
Sementara kehatangan sibuk menjalari hati dan jiwaku
Aku hanya ingin menikmati diamku
Mensyukuri arti keberadaanmu untukku

*17 January 2012, menjelang sore dipenuhi kabut

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2012 in Karena Kita...

 

Tags:

Sebuah Buku

MEMBACA gerak-gerikmu, tingkah laku, perkataan, perbuatan, dan pikiranmu adalah aktivitas paling membahagiakan setelah membaca buku saat senggang. Tapi kamu bukan waktu senggangku yang hanya sebagian kecil dari hidupku. Karena kamu adalah seluruh waktuku, kamu adalah jiwa yang melengkapi keberadaanku.

Kalau aku bisa selesai menghabiskan ratusan bahkan ribuan halaman buku dalam rentang waktu tertentu, membaca tentangmu tak pernah akan habis. Karena kamu hidup dan nyata di hadapanku. Kamu tidak diam dan tak pernah selesai menghantuiku. Kamu, ada di mana pun dan tak pernah tuntas aku pahami.

Kamu adalah sebuah jalan cerita tersulit dan termanis yang tak akan bosan aku ikuti setiap jilidnya. Aku tak akan segan membelanjakan semua waktu yang kumiliki untuk terus mengikuti lanjutan cerita tentangmu yang aku tahu persis tak akan pernah berakhir. Kamu adalah alur satu buah buku kehidupan yang diciptakan Tuhan untuk aku lengkapi dan aku jaga.

Kamu adalah hari ini, hari esok, dan akhir waktu yang akan bersamaku mengisi halaman-halaman kosong sebuah mahakarya tentang asa, cita, dan cinta. Aku akan terus belajar untuk menulis sebuah cerita yang akan membuatmu nyaman, hangat, dan merasa menjadi yang paling beruntung. Karena aku sudah merasakan hal itu sejak kamu menawarkan ketulusan yang tak pernah bisa ku hitung.

Saat ini dan selamanya, bukumu adalah buku yang sama dengan yang aku miliki. Ke mana pun kamu pergi, kamu tak bisa menorehkannya sendiri karena kamu telah menawariku untuk mengisinya bersama. Buku kita akan menjadi cerita terbaik karena kita memenuhinya dengan hati. Dan tak akan ku biarkan seorang pun mengotori buku itu. Terima kasih telah menawarkan buku terindah yang kamu miliki dalam hidupmu untukku, sebuah buku kebahagiaan.

 
Leave a comment

Posted by on January 15, 2012 in Karena Kita...

 

Tags:

Melihat Hujan

SORE yang sempurna ini sangat tenang, hampir tidak ada angin yang membuat alam meliuk-liuk. Aku berdiri di muka jendela, hal yang sudah jarang sekali aku lakukan. Malam akan segera merambat naik, meninggalkan akhir pekan dan memaksa setiap pekerja untuk melanjutkan rutinitas Senin pagi dan seterusnya.

Mataku melihat ke kejauhan, berusaha menembus langit yang menjadi akhir kemampuan indera mataku. Burung-burung kecil beterbangan menikmati sisa sore setelah hujan. Udara sangat dingin, dan aku menikmati kerinduanku padanya. Kerinduan yang sudah terbayar kemarin dan muncul lagi hari ini begitu saja, tanpa diminta. Dan esok atau selanjutnya, rasa ini pasti akan bertambah lebat yang akan aku nikmati setiap detiknya.

Bercerita, berlama-lama, tertawa, sedih, marah, kecewa, serius, canda, akan aku nikmati pelan-pelan dan aku akan pastikan tak ada satu lembar pun kehidupannya yang terlewat. Lantas aku akan dengan senang hati membaca ulang kisahnya, mempelajarinya, dan menuntaskan pemahamanku tentangnya, meskipun aku tahu tidak ada proses belajar yang akan selesai.

Aku masih akan menanti sore-sore tenang lainnya, menikmati sisa gerimis maupun hujan lebat di waktu itu. Seperti kemarin saat aku melihat hujan. Jakarta petang yang basah dan dingin. Orang-orang berderet di bawah kolong jembatan, bersama kendaraan roda dua yang menumpuk. Sebagian lagi berteduh di atap warung tenda, yang lainnya nekad menerabas deras. Aku duduk di sebuah sudut, melihat hujan.

Hujan yang sama yang dia lihat di tempatnya sebelum akhirnya kami bersua. Kami menyukai hujan tapi tak pernah melihat dan menikmatinya berdua. Terutama belakangan ini, kami sering dipagari oleh hujan yang memaksa setiap kami berteduh seorang diri di tempat kami berada. Sepertinya, melihat dan menikmati hujan adalah hal yang mungkin untuk dilakukan ketika kami menghabiskan pekan yang panjang bersama.

*Hujan adalah lentik jemarimu mengusap luka-dukaku. Mendahului musim, melekat bersama takdir (Anonim)

 
Leave a comment

Posted by on January 8, 2012 in Kisahku

 

Tags:

Kehabisan Diksi

PONSELKU bergetar lembut diiringi nada dering yang sudah ku setel berbeda dari panggilan lain. Dengan semangat maksimal edisi orang yang baru bangun tidur, aku menjawab telepon itu dan suaranya ku dengar kemudian. Suara yang entah bagaimana menjadi sangat berarti buatku.

Dia bicara apa saja, menggoda, tertawa, hingga sedikit bicara agak lebih serius. Aku mendengarkan dengan teratur ketika dia bercerita, “Mau tau gak sahabat gue bilang apa?”

“Apa?” kataku singkat dengan perasaan sangat ingin tahu.

“Dia ngeh katanya ada aura yang beda dari kita berdua pas waktu kenalan itu….”

Tersenyum, hanya itu yang aku lakukan di ujung telepon. Aku yakin pasti orang-orang lain yang dekat dengan kami akan merasakan aura itu. Karena di hari aku berkenalan dengan sahabatnya, aku memang sudah berpikir lebih banyak tentangnya, tentang kami. Walaupun aku tak berani menyimpulkan apapun dan aku tahu persis aku hampir tidak bisa menyembunyikan apapun.

Aku menggodanya dengan mengatakan bahwa semua orang sadar kecuali dia. Tapi jauh di dalam hatiku, aku bersyukur karena Tuhan telah mengantarkan seseorang yang sangat berharga. Yang tidak memiliki praduga tertentu sekalipun halal jika memang dia merasa. Berharga karena tak berharap apapun atas begitu banyak ketulusan yang dia berikan.

Aku lalu kembali mengingat percakapan menjelang pagi itu. Aku kira sebelumnya, aku adalah orang yang paling tulus, aku sulit berharap, dan melakukan semua hal karena begitulah aku adanya: tak mengharap balasan. Tapi aku salah! Karena ada yang lebih tulus dariku dan dia membuktikan semuanya. Di atas langit masih ada langit, banyak pelajaran sejenis ini yang aku pelajari dari dia. Dari hal sekecil apapun hingga hal yang begitu besar dan sangat berharga ini.

Kalau aku boleh bergumam, sepertinya ini yang disebut akan indah pada waktunya. Dua ketulusan ini terbayar justru di saat kami sama-sama menghadapi persoalan yang membuat kami berdua begitu marah dan lelah. Karena jika dihitung mundur, kami sebenarnya selalu berada di tempat yang sama di waktu yang lalu. Dia dengan ketulusannya beraktivitas, aku dengan kegiatanku.

Aku telah kehabisan begitu banyak kata belakangan ini. Diksi-diksi yang pernah memenuhi benakku seakan tak pernah cukup untuk mengganti rasa syukur yang teramat sangat. Dan percakapan telepon pagi menjelang siang ini juga makin membuatku kehilangan kata. Mungkin aku perlu membaca lebih banyak kamus untuk memperkaya kosakataku. Dan semakin memperbanyak sujudku atas nikmat Tuhan yang begitu melimpah.

Tepat ketika aku menyudahi kalimat terakhir dalam catatan ini, ujung mataku menangkap Halte Semanggi telah dekat. Aku bergegas dan mendapati matahari telah sangat tinggi lalu berjalan pelan menyusuri jembatan transit terpanjang sambil menikmati belaian angin. Lagu yang ku putar berkali-kali menghentak lewat headphone, dan aku bertutur pelan: kamu adalah nikmat Tuhan yang dipercayakan kepadaku untuk aku jaga selamanya.

*Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman)

 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2011 in Karena Kita...

 

Tags:

Pagi Selalu Kembali

LALU sosokmu menjadi begitu nyata
Sangat dekat
Hampir tidak asing lagi bagiku
Dan segera saja aku merasa diliputi kemewahan

Perasaan usang yang hampir tidak aku ingat cara kerjanya kini menyeruak tiada henti
Menabrak keangkuhan dan kekerasan hatiku
Membiarkan getar-getarnya menjalari seluruh tubuhku
Dan aku sudah tak lagi berjarak dengan rasa ini

Kalau aku pernah hampir lupa ada sebuah diksi yang selalu membuat orang bernapas lebih panjang
Menjadi lebih tenang
Merasa begitu sempurna dan kaya
Bahkan ketika tak sepeser pun receh di saku

Kini diksi itu kini selalu ada mendiami hariku
Melebur bersama setiap detikku
Dan luruh bersama rasa yang aku coba ungkapkan dengan sederhana
Membuatku tak pernah lelah memahami
Menuntunku untuk selalu menikmati
Dan mengizinkanku menjadi yang paling beruntung

Pagi akan selalu kembali
Seperti aku yang akan kembali mengingatmu setelah lelap memaksaku lupa
Malam akan datang menjelang
Seperti rinduku yang akan semakin lekat
Bulan tetap benderang
Seperti cerita kita yang tak akan pernah redup
Bintang akan selalu menerangi
Seperti suaramu yang menggenapi indahnya hariku

 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2011 in Karena Kita...

 

Tags: