Satuan Polisi Pamong Praja atau beken dengan sebutan Satpol PP mengejar pelajar sekolah yang bolos sekolah, Kamis (19/3/2009). Saya tahu dari televisi, yang program berita dan sinetron saling beradu untuk dapat posisi nomor satu. Sampai hari ini, jika mengacu pada hasil survei Reform Institute, dari 2.519 orang yang disurvei 51,81% menonton berita dan 30,25% memilih sinetron.
Kita tinggalkan berita dan sinetron itu. Saya ingin bicara soal bolos sekolah. Dulu, tahun 2000, saya masih suka bolos. Cabut, begitu saya (dan teman-teman) menyebut kata bolos. Saya cabut jika muak mengikuti pelajaran. Bosan dengan pengajar, dan merasa terkekang rutinitas yang justru membatasi ruang gerak saya (siswa).
Mungkin itu dirasakan siswa-siswi yang tertangkap tangan berkeliaran di jalan masih mengenakan seragam. Kata Satpol PP, “Mereka bolos!” Padahal, tahu apa preman berseragam itu tentang jam sekolah pelajar. Bisa saja siswa itu masuk siang atau di sekolah ada rapat guru.
Lagipula, apa yang salah dengan bolos? Tidak ada yang salah dengan itu! Sama tidak salahnya dengan tidak bolos alias mengikuti jam pelajaran. Sekolah dan pemerintah, harus siap menerima konsekuensi logis atas keengganan siswa belajar di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu. Karena sekolah memang hanya bisa mengekang tanpa memberi pemahaman utuh tentang perlunya sekolah.
Dengan membiarkan mereka membolos, sekolah bisa sekaligus mendidik siwa untuk berani. Berani bertanggung jawab atas tindakan yang dipilihnya. Yang bolos ada risiko. Risiko yang mendidik, bukan dengan memarahi. Dia jadi kehilangan nilai karena ada ujian mendadak, misalnya. Biar risiko itu dia tanggung sendiri, dan sekolah tak perlu lagi memarahi.
Sekolah bisa melakukan pendekatan persuasif atas tindakan membolos pelajar. Dengan menanyakan alasan bolos, jadi tahu mungkin ada yang salah dengan sekolah atau sistem belajar. Bukankah ini bisa jadi bagian dari evaluasi sekolah?
Hmm… sayangnya sekolah hanya tahu marah dan menghukum jika ada siswa bolos. Alasannya sepele, siswa jadi ketinggalan pelajaran. Kemarahan sekolah karena siswa bolos menegaskan bahwa sekolah hanya jadi tempat menimba ilmu intelektual, bukan mental, emosional, moral, tanggung jawab, kemandirian dengan memutuskan sendiri setiap pilihan hidup.
Padahal, dengan bolos, mungkin anak itu mendapat sesuatu yang lebih bernilai ketimbang mendekam dalam kelas yang ritualnya membosankan. Hukuman dan kemarahan hanya akan membuat anak didik mengulang lagi perbuatannya tanpa ada perubahan pemahaman atas dirinya, tentang sekolah dan belajar.
***Saya tak sejalan dengan sistem pendidikan dulu dan hari ini. Guru, biarkanlah anak didikmu belajar dalam arti sesungguhnya. Jangan biarkan mereka terlambat mengenal diri dan potensi mereka. Biarkan mereka memilih sendiri mau apa dan bagaimana kisah hidup mereka. Bertanggung jawab atas pilihan itu. Jangan selalu jadikan mereka objek pendidikan!***