*Waktunya sudah dekat, pilihan harus diambil. Ada nyeri karena tahu harus pergi*

Jendela itu terbuka seperempat,
sisanya menutupi langit yang baru saja menyirami tanah malam
bulan bulat menggantung di cakrawala
menumbuhkan rasa baru meski tidak sempurna

Ya,
tidak perlu sempurna
karena kita hanya diminta berkarya
akhirnya bukan kuasa manusia
seperti bulan itu
sepurnama apa pun fisiknya
dia akan tenggelam disusul matahari yang juga akan menghilang

Kita hanya diminta belajar,
menerima,
mengakui,
memberi,
bukan menjadikan semua semau kita

Akan ada kalanya perih,
tapi yakinlah, luka pasti pulih

Sebuah situs berita siang ini menulis, Suryadharma Ali mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. As we know, Suryadharma Ali (SDA) adalah Menteri Negara Koperasi dan UKM di pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Yang dikritik SDA, dalam berita itu, adalah kebijakan ekonomi pemerintahan dalam acara dialog bertema “Pengusaha Bertanya, Partai Politik Menjawab” di Jakarta.

Bagaimana bisa seorang menteri mengkritik kebijakan pemerintah? Pemerintah mengkritik pemerintah? Kalau SDA mengkritik karena dia adalah juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga makin terlihat lucu, atau kacau! Dia yang seharusnya bisa membantu SBY-Kalla di pemerintahan malah menyampaikan kritik itu yang sama saja membeberkan kebodohannya sendiri! Atau situs itu yang salah mengartikan pernyataan SDA?

Tapi kalau pun memang demikian yang disampaikan SDA, hal ini setali tiga uang dengan para menteri di era Orde Baru. Sama tidak punya sikap! Menteri Koperasi Subiakto Tjakrawerdaya di zaman Presiden Soeharto mengatakan, “Kami tidak percaya jika hal itu (pembentukan Kabinet Reformasi oleh Presiden Soeharto) dapat menyelesaikan masalah karena bukan salah menterinya. Perekonomian saat itu memang sudah buruk.” Pernyataan itu terdapat dalam buku yang diterbitkan Republika bertajuk “Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru: 12 Jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur”.

Kala itu, Soeharto berencana membentuk Komite Reformasi, Kabinet Reformasi, dan mengaku tidak bersedia lagi dicalonkan sebagai presiden. Massa, mahasiswa dan rakyat, sudah mulai chaos. Melalui Ketua DPR/MPR Harmoko, Soeharto diminta lengser keprabon. Kalau bukan salah menterinya, lalu mau menyalahkan siapa? Bukan ingin mencari kesalahan orang, tapi presiden dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para menteri. Kalau memang tidak bisa membantu, mundur saja. Atau tolak sama sekali permintaan untuk membantu presiden sejak awal!

Para menteri itu, ternyata memang tidak pernah mengerti apa yang harus mereka lakukan dengan jabatannya. Tengok saja pernyataan menteri yang lain. “Saya ngikut saja. Setelah diteken semua, saya teken saja.” Ini yang dikatakan Menteri Negara Pemberdayaan BUMN Tanri Abeng saat disinggung alasan dirinya menandatangani pernyataan tidak ingin masuk dalam Kabinet Reformasi bentukan Presiden Soeharto, Mei 1998. Waktu itu, ada 14 menteri yang turut menandatangani pernyataan menolak dimasukkan dalam kabinet reformasi.

Kalau Menteri Negara Pangan Hortikultura dan Obat-obatan (Prof. Dr.) Haryanto Dhanutirto lain lagi. Haryanto mengaku, “Saya bilang enggak karena memang tidak dipakai.” Dalam kesempatan lain dia bilang, “Pertama, mungkin solidaritas. Kedua, memang saya dengar dari berita bahwa saya tidak masuk lagi dalam kabinet yang akan datang.”

Berarti, penolakan Haryanto Dhanutirto bukan karena sebuah prinsip bahwa dia menganggap Soeharto tak layak lagi mengurusi negara, melainkan karena dia tahu dia sudah dibuang oleh Soeharto. Hanya karena solidaritas yang tak bertanggung jawab dan tidak menguntungkan rakyat!

Satuan Polisi Pamong Praja atau beken dengan sebutan Satpol PP mengejar pelajar sekolah yang bolos sekolah, Kamis (19/3/2009). Saya tahu dari televisi, yang program berita dan sinetron saling beradu untuk dapat posisi nomor satu. Sampai hari ini, jika mengacu pada hasil survei Reform Institute, dari 2.519 orang yang disurvei 51,81% menonton berita dan 30,25% memilih sinetron.

Kita tinggalkan berita dan sinetron itu. Saya ingin bicara soal bolos sekolah. Dulu, tahun 2000, saya masih suka bolos. Cabut, begitu saya (dan teman-teman) menyebut kata bolos. Saya cabut jika muak mengikuti pelajaran. Bosan dengan pengajar, dan merasa terkekang rutinitas yang justru membatasi ruang gerak saya (siswa).

Mungkin itu dirasakan siswa-siswi yang tertangkap tangan berkeliaran di jalan masih mengenakan seragam. Kata Satpol PP, “Mereka bolos!” Padahal, tahu apa preman berseragam itu tentang jam sekolah pelajar. Bisa saja siswa itu masuk siang atau di sekolah ada rapat guru.

Lagipula, apa yang salah dengan bolos? Tidak ada yang salah dengan itu! Sama tidak salahnya dengan tidak bolos alias mengikuti jam pelajaran. Sekolah dan pemerintah, harus siap menerima konsekuensi logis atas keengganan siswa belajar di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu. Karena sekolah memang hanya bisa mengekang tanpa memberi pemahaman utuh tentang perlunya sekolah.

Dengan membiarkan mereka membolos, sekolah bisa sekaligus mendidik siwa untuk berani. Berani bertanggung jawab atas tindakan yang dipilihnya. Yang bolos ada risiko. Risiko yang mendidik, bukan dengan memarahi. Dia jadi kehilangan nilai karena ada ujian mendadak, misalnya. Biar risiko itu dia tanggung sendiri, dan sekolah tak perlu lagi memarahi.

Sekolah bisa melakukan pendekatan persuasif atas tindakan membolos pelajar. Dengan menanyakan alasan bolos, jadi tahu mungkin ada yang salah dengan sekolah atau sistem belajar. Bukankah ini bisa jadi bagian dari evaluasi sekolah?

Hmm… sayangnya sekolah hanya tahu marah dan menghukum jika ada siswa bolos. Alasannya sepele, siswa jadi ketinggalan pelajaran. Kemarahan sekolah karena siswa bolos menegaskan bahwa sekolah hanya jadi tempat menimba ilmu intelektual, bukan mental, emosional, moral, tanggung jawab, kemandirian dengan memutuskan sendiri setiap pilihan hidup.

Padahal, dengan bolos, mungkin anak itu mendapat sesuatu yang lebih bernilai ketimbang mendekam dalam kelas yang ritualnya membosankan. Hukuman dan kemarahan hanya akan membuat anak didik mengulang lagi perbuatannya tanpa ada perubahan pemahaman atas dirinya, tentang sekolah dan belajar.

***Saya tak sejalan dengan sistem pendidikan dulu dan hari ini. Guru, biarkanlah anak didikmu belajar dalam arti sesungguhnya. Jangan biarkan mereka terlambat mengenal diri dan potensi mereka. Biarkan mereka memilih sendiri mau apa dan bagaimana kisah hidup mereka. Bertanggung jawab atas pilihan itu. Jangan selalu jadikan mereka objek pendidikan!***

Bukan lagi masalah hati! Bukan soal cinta atau tidak cinta. Masalahnya adalah sebuah keterlanjuran berharap. Pun tidak berharap untuk bersama dia, melainkan membayangkan apa yang akan kami katakan kepada masing-masing dari kami. Saya sekarang jadi sakit jika dihadapkan pada rasa penasaran ini. Keingintahuan yang besar terhadap sebuah hal yang mungkin saja tidak penting. Tapi kata hati saya mengatakan harapan saya itu perlu dijawab.

 

Saya sudah bosan dengan kondisi tidak mendapat jawab atas tanya yang saya lontarkan. Mungkin nanti jawabnya tidak sesuai dengan harapan (apakah saya masih punya harapan?), tapi persinggahan itu perlu. Tidak penting, tapi perlu! Sangat perlu bagi saya yang ingin semua persoalan jelas. Sejelas langkah saya menuju sebuah peraduan yang saya inginkan.

 

Bangsat!

 

Saya tidak tahu apakah saya bisa selesaikan masalah brengsek ini. Saya sungguh tak mengerti kenapa setan-setan di hati saya meminta jawaban atas pertanyaan yang bahkan saya tidak pernah merangkainya. Keparat mana yang sudah menghunjam isi kepala dan batin saya dengan kegelisahan murahan ini.

 

Sayang!

 

Ini bukan kegelisahan yang murahan. Karena saya merasa semakin tersudut karenanya. Berarti, hentakan hati untuk menagih jawab atas tanya ini begitu saya butuhkan. Kamu tahu artinya butuh, bukan? Jika kamu tak tahu, entah argumentasi apa yang harus saya lontarkan agar kamu mau menjawabnya. Meski sebenarnya, saya justru belum pernah menyampaikan apa-apa, juga argumentasi. Ayolah, Kawan! Jelaskan apakah saya tengah sakit jiwa atau hanya didera melankolisme yang tak perlu?!

 

Pfffhhhh!!!

Aku menjalani hariku,

seperti biasa

Tanpa ada perasaan akan ada yang terjadi

padaku dan padanya

Pada adikku

 

Aku menulis,

dia menghampiriku dan berkomentar

Seperti biasa

Tidak ada yang berubah pada sapanya,

aktivitasnya, wajahnya, senyumnya

Pada semua hal tentang dirinya

Tentang adikku

 

Aku bergegas,

seperti biasa

Layaknya hari-hari lain

saat rutinitas menyapaku dingin,

tidak dengan dia

Dengan adikku

 

Dia menyapku hangat,

hari itu

Seperti biasa

Tidak ada tanda, tanpa pesan

dia pergi dua hari berselang

setelah wajahnya berlumuran darah

tak sadarkan diri,

dan pergi selamanya

meninggalkan dukaku,

rasa bersalahku,

kepingan penyesalanku,

dan menyisihkan cintanya untukku

 

Masih terasa di kamar ini,

tempat aku dan dia beristirahat

jemari lembutnya memijati tubuh ringkihku

saksama mendengar ceritaku,

tertawa untukku,

membanggakanku di depan teman-temannya,

menghormati teman-temanku

 

Dia memang tak menjejakkan tanda

sebelum kepergiannya,

tak juga menyisakan sedikit pesan

Aku tahu,

dia hanya ingin aku tetap berbahagia,

tak ingin meninggalkanku dengan duka,

tapi masih membekas di benakku

wajah jelitanya yang penuh darah segar

Dan,

aku menangis!

 

My Room, October 21th, 2008

at 2.33 am

Saya menyusuri jalan itu. Lagi. Selalu. Kali ini dengan menekan rasa sedih. Karena, setiap kali melewati jalan itu, saya masih bergidik. Ingin menyesal, meratap, tapi bapak saya bilang, “Kita orang beriman, Neng. Ini semua takdir. Gak ada yang salah dan jangan ada yang disesalkan.” Ya. Bapak benar. Meski kelopak mata saya tidak bisa menahan laju air mata yang ingin tumpah. Titik-titik itu turun satu-satu di kedua mata saya.

Memori Kamis siang, 11 September 2008 itu kembali menyesaki kepala saya. Gemuruh jantung saya tidak terhindarkan. Menjejal serasa ingin menyeruak dalam bentuk bulir-bulir bening yang melewati kedua pipi saya. Siang itu saya pikir akan menjadi siang sebagaimana siang pada biasanya. Tapi tidak. Dari sanalah kesedihan itu bermula. Saya sering berteriak setiap kali ada teman jahil menggelitik saya. Seperti siang itu, saya juga berteriak. Lebih keras, mungkin paling keras. Air mata saya segera meleleh. Tak ada sedikitpun celah di wajahnya yang menyisakan tempat kecuali darah. Innalillahi wainnailaihi raji’un. Dia terluka. Lilis Rahmawati namanya.

Saya kalap. Saya menyesal. Saya meminta maaf entah kepada siapa. Lilis tidak bisa bertahan sampai akhirnya malaikat menjemputnya. Saya berserah diri. Tapi saya tidak bisa lupa kalau jalan itu sudah mengganggu adik saya. Dia jatuh bersama sepeda motornya. Dia jatuh karena menghindari lubang di jalan yang superrusak itu. Kini, jalan itu sudah mulus. Mungkin menjadi jalan termulus yang pernah saya temui.

Orang bilang, “Setelah ditulis di koran, jalan itu jadi rapi sekarang, ya. Coba kalo gak diberitain, mungkin masih rusak. Mau nunggu berapa korban lagi, ya?” Semua orang bilang begitu. Kamu, sudah menjadi pahlawan bagi semua orang yang melintasi jalan itu. Bagi semua orang yang telah terjerembab di tempat kamu terpental.

To be continued

Ada acara yang sangat ingin gue datangi dalam waktu yang tidak lama lagi. Acara sederhana, tapi gue pengen banget. Tapi kenapa mesti di Jogja ya? Jauh banget!

Acaranya itu peringatan Hari Sumpah Pemuda, Bulan Bahasa, dan Purna Tugas Prof Soeparno dengan tema, “Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif Bidang Ilmu.”

Pembicara:

1. Prof. Dr. H. Suparno (Rektor Universitas Negeri Malang)

2. Prof. Drs. H Soeparno (Guru Besar UNY)

3. Dr. Dendy Sugono (Pusat Bahasa Jakarta)

4. Habiburrahman El-Shirazy (Penulis Novel Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta)

Waktu dan Tempat

Waktu: Kamis, 13 November 2008, 07.30 – 13.30 WIB

Tempat: Auditorium UNY, Jalan Kolombo No. 1 Yogyakarta

Peserta: Rosmiyati Dewi Kandi

Contact Person:

1. Kusmarwanti, M.Pd. (081931788448)

2. Ari Listyarini, M.Hum (08122793012)

3. Esti Swatikasari, M.Hum (0815685456)

Universitas Negeri Yogyakarta, I am coming! Soon! I will come. I do will!

Menemani malam dengan segala kesunyiannya
dengan semua keheningan
Semua menghantarkan pada kejernihan berpikir yang tidak bisa diperoleh dari siang
siang yang penuh aktivitas, kepenatan, dan kejenuhan

karena siang berisi kepalsuan
mungkin juga banyak kebohongan hadir di sana
Cuma pada malam berani merintih
bercerita pada malam mungkin berkisah pada ketenangan….
malam mengajarkanku banyak arti, mungkin lebih dari yang diajarkan siang
atau mungkin aku yang salah memaknai siang

Kamu hanya meninggalkan tanda

Tanda kalau kamu menginginkanku

Tapi aku tak pernah mengerti tanda yang kamu tinggalkan untukku

Aku hanya merasa senang sesaat sebelum akhirnya aku kembali berduka

 

Senangku datang jika tanda itu kuartikan sebagai rasamu padaku

Tapi ternyata lebih banyak perasaan sedih yang muncul

Karena percuma kalau tanda itu hanya jadi arti buatku

Tanpa pernah terealisasi menjadi rasa yang utuh

 

Aku tahu aku selalu takut mengerti tanda itu

Dulu kamu sudah meyakinkan aku akan rasa itu

Kamu datang untuk memastikan apakah aku juga memiliki rasa yang sama

Namun kamu hanya dapat hampa karena aku tak membalasnya

 

Sekarang,

Aku sudah terjerembab

Aku menilai ini bukan waktu untuk kita

Paling tidak, detik ini

Karena esok tak ada yang pasti

 

Nampaknya kamu tahu aku menyayangkan kondisi kita

Mungkin kamu sedang menertawai aku

Atau justru kamu juga gamang

Sebab rasa itu masih utuh untukku

 

Maaf, Sayang

Jika ternyata aku menjadi masalah terbesar dalam hidupmu

Aku tak ingin begitu

Karena sejujurnya aku telah memikirkanmu

Masih di sini

Begini

Tak ada yang berubah

Tetap merasa ada yang hilang

Entah sampai kapan

Selalu merasa ada yang kurang

Aku terlalu rapuh

Aku terlalu menyesal

Rapuh karena aku tahu aku salah

Sesal yang ada karena aku tahu aku lalai

Aku luput

Aku tidak peduli (padanya)

Aku cuek

Aku bukan orang baik

Aku tidak sebaik yang dia harapkan

Padahal,

Dia sudah begitu istimewa

Aku tak punya apa pun untuk mengganti

Semoga,

Doa itu cukup

Ya Allah,

Cukupkan janjiku padanya dengan doaku untuknya pada-Mu

Aku tak punya yang lain selain doa

Itu pun jika Engkau berkenan menerimanya

Ya Allah,

Bantu aku genapkan janjiku dengan doa

Hanya dengan doaku,

Kabulkanlah

Amiin