Monthly Archives: November 2007

Sempit, luas, kini sama saja Muram, benderang, tiada beda Hanya ada aku Dan kemudian aku  Bersandar ditemani sepi Senyap semakin menjalar Kuhiraukan saja semua rasa Karena bagiku sama saja  Pun yang lewat dan hari ini Tak ada yang berbeda Sesekali aku menoleh Tetap saja hanya ada aku Dan kemudian aku!

Aktivis kampus memang bukan malaikat yang suci dari kesalahan dan kealpaan. Saya juga pernah mengalami masa-masa tersulit selama berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kampus. Tak jarang pula saya merasa terlalu letih dan enggan melangkah. Tapi tentu itu bukan sebuah jawaban atas pertanyaan sekian banyak orang yang memercayakan amanah sebuah kepemimpinan. Pada dasarnya, semua orang–pasti, terlalu muak dengan slogan kosong. Punya mimpi manis tapi tak mau diraih. Mereka berkelit bahwa mereka tidak bisa. Padahal mereka memang pecundang yang selalu berlindung di bawah kelemahan. Belumlagi permakluman-permakluman dari orang lain bahwa itu adalah hal biasa dan menusiawi.

Sebenarnya, kalau semua paham bahwa kemanusiaan seseorang justru dibuktikan dengan komitmennya terhadap janji yang kadung keluar dari mulutnya, mereka pasti tak akan mengeluh. Yang model begitu seolah menggambarkan kedirian dengan pernyataan tak langsung bahwa hanya mereka yang manusia, yang lain bukan. Sehingga cuma mereka saja yang pantas dihargai. Padahal juga kalau kita semua mengakui, tak ada seorang pun yang ingin selalu mendengar orang yang berkeluh kesah. Tak seorang pun! Tapi akhirnya banyak dari mereka yang di mulutnya hanya keluhan. Tak ada lain! Seakan kehabisan kata selain keluhan!

Aku punya hati,

Kau pun begitu

Hatimu sedang berbunga

Lebih dari hatiku yang datar Bukan mati rasa, Hanya memang tak ada yang bisa dibanggakan Tak ada warna di sana, Biasa, tidak istimewa Kau tak begitu Kau sedang menyemai benih cinta Meski hatimu sudah tertambat Tapi aku lumrah, itu hakmu Pun masih hakmu ketika kau sampaikan padaku, ”Aku menyayangimu” Aku tegaskan, Itu hakmu (dengan ternganga) Kau masih bercengkrama denganku, Ketika kau katakan, lagi, ”Aku menyayangimu” Itu hakmu (titik) Aku ingin kau tetap di sana Untuk tetap seperti ini Kau dengan dirimu Aku dengan diriku Silakan nikmati rasamu, Tanpa kau usik rasaku Ternyata kau mulai tak terkendali

Logikamu dikuasai rasamu

Aku tak menyalahimu,

Tapi tolong,

Jangan ganggu aku

Aku tetap di sini menjadi bagian darimu

Asal jangan kau minta aku menjadi yang kau mau

Aku tak bisa karena tak ada rasa,

Rupanya kau ingin mendesakku

Bahkan mendesak empatiku atas rasamu

Hei!

Kau telah menggangguku dengan rasamu

Aku hargai rasamu yang menyayangiku

Aku tak memaksa agar kau hentikan rasa padaku

Tapi tolong, Hargai rasaku yang datar

Lihat!

Kau menyalahiku sekarang

Kau bilang aku tak mengerti keadaanmu

Kau hanya ingin orang menghargai rasamu

Tapi ke mana hatimu untuk menghargai rasaku

Coba tempatkan dirimu pada posisiku

Apa kau mau,

Aku memaksamu menyayangi yang lain

Di saat rasamu telah tertambat padaku

Kalau kau mau,

Berarti aku tak sebijak dirimu

Anggap saja kau salah menyayangi orang

Nilai saja aku serendah apapun yang kau mau

Karena rasaku akan tetap sama

Aku tak bisa, karena tak ada rasa itu

Aku tetap di sini Aku dengan diriku (aku)

Dulu kesendirian adalah sepele

Kini semua bisa menjadi kebekuan

Beku kaku dan mati

Tak elok rupanya gelagat ini

Tapi tentu kau tak bisa ingkar pada hati

Ingkar pada diri

Dan sosok yang kini mengintai

Bukan karena sosok itu

Tapi lebih karena rasa yang kau putuskan 

untuk kau titipkan padanya

Aku tak lagi ada di sana

Rutinitas mengantarku pada dunia yang menggerus habis kekayaanku

Tapi aku mengenalkan diriku pada alam baru ini

Aku tahu, aku menikmati

Namun yang jelas, kenikmatan itu telah menghilangkan kebahagiaan yang lain

Aku tahu, itu harga yang harus aku bayar

aku sudah tak lagi menikmati malam dalam arti sebenarnya

Aku masih berada di aspal-aspal itu jika saatnya tiba

Bukan lagi jendela kamar dan lampu buram yang menemani malamku

Tapi angin kencang dengan deru kendaraan yang tak pernah jera meski waktu semakin pekat

Setiba di tempat aku tak lagi merasa istimewa dengan malam-malamku,

Aku sudah tak ingat siapa diriku

Yang aku tahu,

Rutinitas yang sama kembali menyapa hariku

Tapi, tentu aku akan datang lagi ke sana

Aku akan menjemput

Atau kau yang akan menyusulku (aku)

Pose itu masih menggantung di dinding batinku. Memori dalam benakku juga kadang menari jika aku harus menerawang pada indahnya hari itu. Hari di mana aku menjadi bagian dari orang yang harus menitikkan air mata ketika melihat kedustaan terpampang di depan mata. Waktu di saat aku merasa begitu kecil saat tahu ada begitu banyak orang “besar” yang rela menderma untuk kebahagiaan orang lain. Kerinduan yang sama saat aku merasa aroma “kematian” begitu dekat denganku. 

Mati yang sama saat aku tahu aku telah jauh dari cahaya itu. Fakta yang tidak berbeda ketika aku tak bergeming begitu tahu ada yang harus aku lakukan di “tempat paling membahagiakan” dalam hidupku. Kematian itu membuatku seperti tak punya rasa. Aku mati dalam arti yang sebenarnya jika kau tahu artinya hidup. Aku mati dalam sebongkah batu yang tak pernah mengalah kepada ombak. Aku mati dalam hujan yang tak mau membasahi padi dengan airnya. Aku mati dalam lubang yang selalu membuka diri untuk kejahatan. Aku mati dalam hidupku!

 

Aku ingin hidup, tapi kelalaian selalu mematikan hidupku. Mataku mematikan logikaku. Hatiku juga mati karena kedunguanku. Mulutku mati karena kebodohanku. Kepalaku mati karena akalku mati. Aku tahu siapa yang harus bangkit melawan “kematian” ini. Aku sendiri. Tapi aku pun sedikit banyak menikmati kematianku. Meski jauh di dasar hatiku, aku belum mau “mati” dan aku tak pernah mau “mati”. Besok, saat yang baik untuk “mati suri”. Besok waktu yang indah untuk melawan “kematian” dengan kehidupan yang jauh dari aroma “kematian”. Ya besok! Aku janji pada “kematian” bahwa aku berusaha untuk tidak akan lagi menemuinya. (aku)