Aku punya hati,
Kau pun begitu
Hatimu sedang berbunga
Lebih dari hatiku yang datar Bukan mati rasa, Hanya memang tak ada yang bisa dibanggakan Tak ada warna di sana, Biasa, tidak istimewa Kau tak begitu Kau sedang menyemai benih cinta Meski hatimu sudah tertambat Tapi aku lumrah, itu hakmu Pun masih hakmu ketika kau sampaikan padaku, ”Aku menyayangimu” Aku tegaskan, Itu hakmu (dengan ternganga) Kau masih bercengkrama denganku, Ketika kau katakan, lagi, ”Aku menyayangimu” Itu hakmu (titik) Aku ingin kau tetap di sana Untuk tetap seperti ini Kau dengan dirimu Aku dengan diriku Silakan nikmati rasamu, Tanpa kau usik rasaku Ternyata kau mulai tak terkendali
Logikamu dikuasai rasamu
Aku tak menyalahimu,
Tapi tolong,
Jangan ganggu aku
Aku tetap di sini menjadi bagian darimu
Asal jangan kau minta aku menjadi yang kau mau
Aku tak bisa karena tak ada rasa,
Rupanya kau ingin mendesakku
Bahkan mendesak empatiku atas rasamu
Hei!
Kau telah menggangguku dengan rasamu
Aku hargai rasamu yang menyayangiku
Aku tak memaksa agar kau hentikan rasa padaku
Tapi tolong, Hargai rasaku yang datar
Lihat!
Kau menyalahiku sekarang
Kau bilang aku tak mengerti keadaanmu
Kau hanya ingin orang menghargai rasamu
Tapi ke mana hatimu untuk menghargai rasaku
Coba tempatkan dirimu pada posisiku
Apa kau mau,
Aku memaksamu menyayangi yang lain
Di saat rasamu telah tertambat padaku
Kalau kau mau,
Berarti aku tak sebijak dirimu
Anggap saja kau salah menyayangi orang
Nilai saja aku serendah apapun yang kau mau
Karena rasaku akan tetap sama
Aku tak bisa, karena tak ada rasa itu
Aku tetap di sini Aku dengan diriku (aku)