Daily Archives: May 25th, 2008

Makan di Jalan Jaksa adalah sebuah hal yang menyenangkan untuk saya lakukan. Awalnya hanya karena ajakan seorang teman, 9 bulan lalu, karena kebetulan saat itu dia masih kost di wilayah itu. Pertama kali makan, saya sudah disuguhkan ayam bakar yang nikmat dan murah. Kali kedua makan di sana, bersama tiga teman saya yang menyenangkan, bukan saja sajian lezat yang bisa dinikmati, tapi juga sesosok laki-laki berkulit hitam, manis, kurus, kaos oblong, jeans belel, santai dan berantakan dengan gaya yang cool sedang berbincang menggunakan bahasa penjajah, Inggris.

He doesn’t look like an arrogant man with his fluently English conversation! Bisa ditebak, mata saya tidak berhentik menoleh ke arahnya untuk beberapa saat lamanya hingga saya menyadari bisa saja mata ini bersirobok dengan matanya yang tampak bersahabat. Kunyahan-kunyahan selanjutnya hanya sebuah formalitas atas makanan yang sudah saya pesan dan tersaji hangat di meja. Canda tawa teman-teman gila saya ini hanya satu dua yang mampir di kepala saya, sisanya, lebih syahdu memandangi pria-yang-saya-tidak-tahu-namanya-itu berceloteh ke sana ke mari dengan seorang bule Jaksa. Suaranya menyenangkan, sangat cair dan bersahabat. Seakan tahu banyak hal dan sering mempelajari banyak hal. Entah dari mana dia belajar English Conversation karena dengan potongan yang lebih mirip anak ugal-ugalan, dia seperti orang yang tidak suka sekolah. Sama seperti beberapa kawan yang menyebut sekolah dan kampus sebagai penjara dan semacamnya.

Agak norak memang kalau “hanya” karena Bahasa Inggrisnya yang ‘cas-cis-cus’ lantas saya mengagguminya. Tapi begitulah kenyataannya! Kalau sedang begini, menyukai dan tidak menyukai tidak perlu alasan. Saat saya menulis ini, saya baru saja “menemui” dia lagi di pertigaan gang sekitar Jalan Jaksa. Tepatnya, dia di depan warung persis di seberang saya biasa menikmati ayam bakar murah dan enak. Ketika saya melihatnya, saya tidak berani lagi menatap ke arah dia waktu tahu dia juga melihat ke arah saya dan teman saya (secara tidak sengaja).
Kepala saya yang kebetulan sakit, memaksa saya untuk kembali melangkah mendekati warung itu untuk membeli obat sakit kepala. Masih ada dia di sana. Tapi dengan tololnya, saya tak berani menatap ke arah sosok menyegarkan itu. Saya berlalu tanpa sedetik pun mata ini melengos ke arahnya. Saat akan kembali ke kantor, saya tak lagi mendapati dia di antara laki-laki yang masih hiruk pikuk nongkrong! Entahlah. Mungkin di lain waktu bisa “menemui” dia lagi. But, Who is He??? I really, really wanna know! Your name, please!