Daily Archives: May 26th, 2008

Bulan Mei, tahun berapa pun, memiliki makna tersendiri bagi bangsa Indonesia. 1 Mei, diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, di mana Indonesia termasuk dalam komunitas internasional tersebut. Menyusul tanggal 2 Mei yang merupakan Hari Pendidikan Nasional. 100 tahun yang lalu, lagi-lagi di bulan Mei, tepatnya tanggal 20 tahun 1908 disahkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sedangkan, Mei 1998, terjadi bentrokan berdarah antara kepolisian dengan mahasiswa. Kerusuhan juga menjadi mimpi buruk rakyat Indonesia pada Mei 1998. Pada 21 Mei, Orde Baru runtuh ditandai dengan mundurnya Soeharto dari tampuk kepemimpinan yang sudah dikuasainya selama 32 tahun.

Lalu, Mei 2008 saat ini, kita menanti hadiah yang idealnya bisa melegakan. Bermodalkan semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi, rakyat Indonesia merindukan sebuah perubahan berarti dan signifikan. Kalau pun hingga kini belum dicapai, paling tidak ada proses membanggakan yang dilakoni Pemerintah Indonesia.

Tapi tidak! Karena hingga kini, Indonesia masih menjadi bangsa pengekor. Indonesia belum menemukan sosok pemimpin sejati yang mau berkorban demi rakyat, bukan pimpinan yang justru mengorbankan rakyat untuk kepentingan asing! Entahlah, bayangan buruk tentang betapa mengguritanya kepentingan asing di Indonesia selalu menghantui. Ketidakpercayaan kepada Pemerintah makin menjadi ketika tahu, Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), Jumat (23/5) lalu.

Di waktu yang semestinya Pemerintah memberikan cahaya baru bagi masyarakat yang telah 10 tahun menjalani proses reformasi dan 100 tahun Kebangkitan Nasional, malah hadiah naiknya harga BBM yang diperoleh. Sebelum menaikkan harga BBM, ketidaktegasan Yudhoyono sudah menjadi momok menakutkan yang meresahkan masyarakat. Pasalnya, belum lagi harga BBM diputuskan naik, namun dampaknya sudah membuat kekacauan yang cukup signifikan. Kelangkaan BBM di sejumlah wilayah, antrean calom pembeli kebutuhan pokok itu pun terjadi di mana-mana.

Baru saja rencana gaung kenaikan harga BBM ditabuh, harga kebutuhan pokok lainnya sudah merangkak naik. Betapa bodohnya pemimpin yang karena rencana busuknya sudah membuat instabilitas di dalam negeri. Apa yang seperti ini masih layak disebut pemimpin? Tapi toh, hari ini tidak ada yang bisa diperbuat rakyat Indonesia selain tidak memilih lagi pemimpin model begitu pada pesta demorkasi 2009 mendatang. Nampak seperti kampanye, tapi tidak juga. Karena entah setan mana yang akan mencalonkan diri nanti hingga kini masih sebatas bayangan. Mungkin masih muka lama yang hanya bisa saling menuding, menjatuhkan, dan mengklaim! Padahal, saat mereka menjadi pemimpin, apa yang mereka berikan bagi rakyat juga sama saja!

Untuk semua rakyat Indonesia, tidak perlu banyak berharap kepada pemimpin. Marahlah kepada mereka yang telah merampas pajak untuk dikorupsi. Berserapahlah karena penguasa sudah menginjak-injak harga diri bangsa dengan menjualnya kepada pihak asing. Bersedihlah karena pemimpin kita lebih memilih untuk menyakiti rakyat dan mengamankan kepentingannya sendiri. Berusahalah, karena kita sendiri yang bisa memberi hadiah bagi bangsa ini dengan tidak memilih pemimpin yang menghamba pada uang, kekuasaan, dan pihak asing!!!