Monthly Archives: June 2008

Bekerja. Sebenarnya bisa jadi membosankan dan menyenangkan. Kondisi ini, keduanya harus saya nikmati. Saat menyenangkan adalah ketika ada yang harus saya kerjakan dalam pekerjaan saya. Sedang rasa bosan itu muncul ketika I do nothing in working. Ketika bosan menyapa itulah, kerap saya membunuhnya dengan aktivitas semacam menertawai orang!

Adalah teman saya, seorang wartawan tanpa media di Jakarta” yang menjadi bulan-bulanan kemarin siang. Padahal dia adalah orang yang paling sering menghina dina rekan sesama jurnalis yang bermarkas di sebuah institusi penegak hukum–tempat saya bertugas. Namun kali ini, kesalahannya fatal hingga dia tidak bisa menghindari celaan itu. Saya yakin, awalnya dia sumringah membeli sebuah tas berwarna hijau di bagian luar dan oranye di bagian dalam itu. Tapi belakangan, tas dari Singapura itu pun (mungkin) dia pertanyakan kelayakpakaiannya.

Rapat Kerja antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dengan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masih berlangsung siang itu. Suasana sidang pascamakan siang hening. Setiap peserta sidang, termasuk wartawan yang meliput, sibuk mendengarkan jawaban Kapolri Jenderal Pol Sutanto atas pertanyaan anggota dewan. Hingga sebuah suara mengusik ketenangan.

Sreeeeeeeetttttttttt….

Semua mata mencari asal muasal gangguan. Beberapa pasang mata mendelik diiringi tawa tertahan. Lainnya tersenyum meledek sembari menggelengkan kepala. Sisanya, dan ini yang paling signifikan, tertawa terpingkal-pingkal memaksa yang lain dan beberapa orang ikut tertawa. Meledek, tentu saja. Menghina, pastinya. Pasalnya, itu adalah suara yang bersumber dari perekat tas dari Singapura yang terbuat dari bahan plastik milik teman saya itu. Dia pun kaget mendengar suara perkat tas yang dia buka dengan tangannya sendiri. Kita tahu, selain jenis resleting, tali, dan kancing, tas juga bisa ditutup dengan menggunakan perekat itu. Yang jika kita membuka tas (atau dompet), bisa menimbulkan suara mengganggu.

Itu yang terjadi pada tas seharga Rp150.000. Setelah itu, dia tidak berani lagi membuka tasnya secara langsung dan cepat. Karena dia tahu, gangguan akan dialami siapa saja yang mendengar suara perkat tas itu. Celakanya, semua telinga manusia pasti mendengar sebab suaranya begitu khas. Khas membuyarkan konsentrasi orang lain! Dengan muka penuh harap, dia meminta kepada saya dan teman seperjuangan saya dalam menghina dia, untuk tidak mengusik tasnya. Lebih menggelikan lagi kalau melihat tampangnya yang memelas. Memohon agar tak seorang pun membuka tas yang sepanjang siang dia putuskan untuk dipeluknya erat.

Hingga malam menyapa, dia masih takut membuka tas yang dia beli di Mustafa Centre, Kampung India, Singapura, itu seacara langsung dan cepat. Matanya pun awas memerhatikan perubahan lingkungan yang terjadi jika dia membuka tas itu. Yang membuat keadaan semakin menggelitik, dia pasrah ditertawakan. Tanpa syarat! Suatu hal yang tidak mungkin dia lakukan sebelumnya. Bekerja diiringi tawa, akhirnya jadi sangat menyenangkan.

 

Telepon selularku tidak berhenti berdering. Bunyinya, entah kenapa sangat mengusik kenyamananku. Aku seperti tidak menyukai jeritan di ponsel dengan nomor yang tidak aku kenal itu. Beberapa kali teriakan handphone itu kuabaikan. Lengkingannya pun belum berhenti hingga beberapa nomor unnamed tampak di display. Suara itu menemaniku selama dua hingga tiga hari.

Sampai kuputuskan untuk menghubungi teman dekatku. “Tolong cari tahu ini nomor siapa, ya? Nggak tahu nih, belakangan parno angkat telepon…,” kataku sambil menyebut sederet angka nomor telepon. Kekhawatiranku memuncak ketika temanku itu mengatakan nomor tersebut bukanlah nomor dalam kota. “Serius lo? Nomor siapa, ya?” setengah panik aku menyahut.

Temanku memastikan akan mencari tahu siapa pemilik nomor ponsel itu. Sekadar informasi, aku punya dua nomor handphone. Biasanya, siapa pun yang menghubungiku (yang kenal baik denganku), pasti tahu kedua nomorku. Artinya, jika gagal menghubungiku di satu nomor, pasti akan dengan kesal menghubungi nomorku yang lain. Tapi nomor-nomor itu tidak! Satu nomor yang mengganggu kenyamananku itu pun meneleponku dengan jarak yang cukup jauh. Membuktikan bahwa dia tidak kenal denganku. Akhirnya, beberapa nomor yang masuk tanpa nama tidak kujawab.

Memang, pada akhirnya, perlahan namun pasti, ada tiga nomor asing yang terjawab siapa tuannya. Nomor pertama, milik seorang teman dari I-radio. Aku sebenarnya sudah menyimpan nomornya, tapi entah kenapa tidak tampak di layar ponselku. Kedua, nomor temanku dari Suratkabar Harian Republika. Mencari tahu perkembangan terakhir kasus Munir. Ketiga, nomor adik dari teman kakakku. Meminta tolong agar aku membantu tugas akhirnya. Pffffffhhhhhh! Tapi ada satu nomor yang hingga kini masih anonim.

Aku begitu paranoid karena pernah ada orang tak dikenal memakiku seenaknya. Padahal, persoalan yang dia anggap ada kaitannya denganku sama sekali salah. Dia pun mestinya menyelesaikan dulu urusan itu dengan ‘pihak yang berkompeten’. Tidak dengan mengganggu ketenanganku. Bukan aku takut! Aku tidak takut karena aku yakin tidak melakukan seperti apa yang dia nilai tentang aku. Hanya, aku tidak mau memperpanjang urusan dengan orang aneh itu ditelepon. Kalau dia mau, datangi saja aku–seperti yang pernah dia sampaikan padaku. Dan, akan kubuat dia malu karena telah salah menilaiku! Aku juga akan mengajarinya bagaimana menjadi manusia!

Kekuatan seorang jurnalis atau media massa memang ada pada kepandaiannya bermain dengan kata-kata. Bahkan menurut saya, kata atau bahasa yang digunakan jurnalis dalam penulisan berita bisa lebih berbahaya dari kekerasan (fisik) yang dilakukan oknum tertentu jika ada diskriminasi dalam diksinya. Contoh sederhana (yang bisa meluas) yaitu penggunaan kata “Habib” dan “Gus” untuk orang yang dihormati di sebuah masyarakat.

Saya tertarik membaca berita di situs www.eramuslim.com yang menyinggung penggunaan kata sapaan untuk Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Kiai Haji (KH) Abudrrahman Wahid (Gus Dur) oleh Metro TV. Dalam berita eramuslim menyebut bahwa Metro TV jelas sekali menyudutkan Habib Rizieq dengan meninggalkan sapaan “Habib” untuk pimpinan FPI itu. Sedangkan, masih menurut eramuslim atas pemberitaan Metro TV, media televisi milik Surya Paloh ini dengan hormat menyebut nama Abdurrahman Wahid dengan “Gus” Dur.

Secara subjektif, tentu saya sangat sependapat dengan eramuslim yang menyebut bahwa ada kesinisan yang dilakukan Metro TV atas perbedaan sebutan terhadap kedua tokoh masyarakat tersebut. Namun, secara objektif saya tegaskan, tidak ada persoalan jika stasiun televisi milik Media Group itu mengenyahkan kata “Habib” pada Rizieq Shihab dalam penggunaan bahasanya. Asalkan, Metro TV juga harus melakukan hal yang sama pada Abdurrahman Wahid dengan tidak menyertakan sapaan “Gus”. Bukankah dalam Bahasa Jurnalistik dikenal istilah kesetaraan dalam penggunaan bahasa? Saya pun tidak akan setuju jika eramuslim dalam penulisannya menggunakan kata “Habib” untuk Rizieq dan meninggalkan gelar “Gus” untuk Abdurrahman Wahid.

Jika dalam keseharian seorang jurnalis bisa saja menyapa seseorang dengan sebutan “Bapak”, “Ibu”, “Mas”, “Mbak”, “Bang”, dan sebagainya, namun dalam penulisan berita, embel-embel itu bisa dihilangkan. Tak peduli orang yang ditulis adalah orang dengan usia yang sangat tua atau seberapa berjasanya dia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Kalau pun akhirnya ada yang menyebut Sutiyoso dengan kata Bang Yos, itu hanya sebuah sebutan untuk mengakrabkan pembaca dengan sumber yang dimaksud. Pun tidak berdosa jika menyebutnya dengan Sutiyoso, untuk mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Dalam kasus Metro TV, media ini sudah berlaku tidak adil terhadap Ketua Umum FPI Habib Rizieq. Tidak peduli Metro TV tidak sependapat dengan “tindakan” yang dilakukan petinggi organisasi masyarakat (ormas) yang berdiri pada 17 Agustus 1998 itu, namun sebagai media yang independen, sepatutnya Metro TV tidak perlu mengedepankan subjektivitasnya. Ketidaksukaan Metro TV kepada Rizieq tidak perlu dibeberkan dengan melakukan diskriminasi terhadap orang yang disegani di kalangan Islam yang kaffah itu. Padahal, secara terang-terangan, Metro TV menyapa hangat mantan Presiden Soeharto (alm) dengan tidak pernah menyebutnya sebagai penguasa Orde Baru. Penulisan berita Metro TV selalu menggunakan atribut “mantan presiden” untuk orang yang berkuasa selama 32 tahun itu. Padahal, dosanya terhadap negara juga patut diadili, dengan tanpa mengesampingkan perannya dalam pembangunan karakter dan fisik Tanah Air (jika benar ada!).

Metro TV dengan tegas telah mengidentifikasikan dirinya sebagai media massa yang mewakili kelompok tertentu. Entah kelompok apa dan dengan tujuan apa! Penggunaan bahasa seperti yang dilakukan Metro TV (dan tidak menutup kemungkinan media lainnya; sebut saja semua media) telah menggambarkan seberapa besar kemampuan pihak tertentu meracuni media hingga condong pada kelompok tertentu. Tapi saya juga tidak menutup mata bahwa media massa berhak untuk memiliki warna sendiri! Tak peduli warna itu menjatuhkan pihak tertentu dan mengelu-elukan yang lain. Semoga media massa pun tak lupa bahwa mereka juga punya kewajiban untuk mendidik rakyat. Mendidik bangsa untuk menilai objektif terhadap sesuatu dan menghilangkan diskriminasi serta penindasan terhadap kelompok tertentu.

Seorang teman pernah mengatakan kepada saya, “Sampaikan kesalahan orang lain, tidak dengan kebencian.” Semoga media massa nasional Indonesia juga sudah menerapkan hal ini dalam setiap pemberitaannya. Belum terlambat untuk berbenah. Tuntutan perubahan yang diteriakkan oleh rakyat Indonesia bukan hanya ditujukan kepada Pemerintah saja, tapi juga segenap lapisan masyarakat. Termasuk media massa, yang mengaku sebagai pilar keempat republik ini.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jumat (23/5) lalu berdampak buruk. Aksi demonstrasi berujung bentrok antara mahasiswa dengan aparat kepolisian adalah salah satu implikasinya. Contoh lain yang fatal, Pemerintah jadi merasa berjasa dengan menyalurkan bantuan langsung tunai alias BLT senilai Rp100.000 per orang miskin selama enam bulan.

Kebijakan BLT menjadi fatal karena selain bukan solusi tepat atas melonjaknya harga BBM, juga merupakan program pembodohan massal. Masyarakat Indonesia dipaksa untuk menghamba pada Pemerintah dengan mengantre untuk mendapat dana langsung tersebut. Rakyat Indonesia digiring menjadi bangsa yang tidak malu minta melulu di saat ada momen terbaik untuk bangkit. Sialnya lagi, SBY dengan bangga menyatakan uang seratus ribu tersebut merupakan kompensasi atas naiknya harga BBM. Padahal, akibat dari naiknya BBM berimplikasi jangka panjang, sedang BLT hanya program jangka pendek dan menimbulkan kericuhan baru.

Yang lebih menyedihkan, setelah mengumumkan harga BBM naik, Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indriati menyebutkan, angka kemiskinan akan turun pada akhir 2008. Hal ini ditanggapi dingin oleh Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika. Erani mengatakan pernyataan Sri Mulyani merupakan kebohongan publik. Pendapat Sri Mulyani dinilai tidak masuk logika awam dan tidak berdasar teori ekonomi mana pun. “Saya rasa mereka (Pemerintah) juga tahu kalau yang mereka sampaikan itu salah. Saya berani menantang siapa saja yang mengatakan dengan kenaikan harga BBM angka kemiskinan akan turun,” tandas Erani.

Akhirnya, pernyataan sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer bahwa Indonesia tidak punya pemimpin terbukti. Meski pun kenyataan ini sudah lama diamini banyak pihak. Namun bukti nyata hari ini terpampang di depan mata. Pemerintan Provinsi DKI Jakarta baru mengumumkan tarif baru angkutan di Jakarta pada Rabu (4/6). Padahal pascakenaikan harga BBM, terhitung sejak Sabtu, 24 Mei, supir angkutan kota (angkot) dan bus, disokong oleh Organisasi Angkutan Darat (Organda) sudah menaikkan tarif angkutan, disusul kenaikan kebutuhan pokok lain.

Ini adalah bukti nyata rakyat Indonesia, khususnya masyarakat DKI Jakarta, tidak memandang pemimpin mereka. Hal ini juga menegaskan bahwa orang yang tidak bisa mengantisipasi konsekuensi logis dari kebijakan yang dia keluarkan bukanlah pemimpin! Selayaknya, SBY dan jajarannya tahu akibat dari kenaikan BBM malam itu. Mestinya bersamaan dengan disampaikannya kebijakan tersebut dia langsung memerintahkan para pembantunya untuk menyesuaikan kondisi di lapangan. Bahwa ada genderang penolakan yang ditabuh oleh seluruh masyarakat Indonesia, itu lain soal.

Pemimpin yang mengombang-ambingkan rakyatnya bukanlah pemimpin. Rencana kenaikan harga BBM tanpa menyebut kapan waktunya sudah membuat pelaku pasar berspekulasi. Disusul dengan kebijakan menaikkan harga BBM pada 23 Mei yang tidak diimbangi dengan penyesuaian harga di beberapa aspek semakin mengungkapkan siapa pemimpin Indonesia. Apalagi, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sudah memastikan Pemerintah tidak akan membatalkan kenaikan harga BBM meski aksi penolakan hingga kini masih berlangsung. Jadi, harus sejak awal ditegaskan penyesuaian di semua sektor kehidupan masyarakat yang merasakan imbas kenaikan harga BBM.

AKU tak terbiasa menggantungkan kebahagiaanku pada orang lain. Tak juga aku ingin mengusik orang lain dengan kehadiranku. Tapi belakangan entah mengapa aku merasa terganggu dengan mereka yang ada di sekelilingku. Mereka sangat menggangguku. Masih tersisa pertanyaan di kepalaku. Apakah itu hanya sekedar sensitifitasku saja atau memang itu fakta yang sebenarnya.

Aku sebenarnya bukan tipe orang yang suka berdiam diri ketika ada yang menggangguku, tapi aku juga tidak bisa terbuka dengan orang yang sudah punya pandangan sendiri tanpa mau menghargai pendapat orang lain. Aku tak mungkin terbuka dengan orang yang tertutup. Aku benci ada dalam situasi ini, karena ini telah mematikan hidupku. Tapi kalau aku terpengaruh pada persoalan itu, artinya aku menggantungkan kebahagiaanku pada orang lain.

Aku hanya ingin menuliskan apa yang aku pikir dan rasakan hari ini. Tak mau tahu jika nanti hal itu menyinggung orang lain. Toh aku tak meyebutkan apa-apa di sini. Tak tahulah ada apa dengan diriku hari ini. Aku hanya sedang tak ingin berlama-lama di tempat ini. Sebisa mungkin, sesegera mungkin aku mangkat dari sini jika urusanku sudah selesai!

Aku rasa aku telah berubah. Tapi ini buruk bagiku karena tidak lagi menjadi orang yang peka terhadap kesengsaraan yang dirasakan orang lain. Bukan tidak mau peduli sebenarnya, tapi keadaan menggiringku menjadi sebongkah batu. Ternyata hanya segini kemampuanku. Ternyata aku tak mampu membangkitkan pikiranku yang karam di tengah terpaan badai keegoan. Jujur, aku hanya tak mampu membagi konsentrasiku hari ini. Aku cuma terlalu lelah dengan rutinitas yang aku jalani saat ini. Hampir pasti aku tak punya sedetik waktu untuk kunikmati bersama jiwa yang rapuh ini.

Aku memang sudah tahu apa yang ingin kugapai. Aku mengerti sekali apa yang hendak aku cari. Tapi aku sering berada dalam kejemuan mendapatkannya. Hari ini aku hanya memberi untuk orang lain tapi lupa memberi diri sendiri. Meski aku sangat tidak yakin orang yang aku beri itu menerima pemberianku karena semua toh hanya sebatas talking news! Aku adalah orang-orang depresi itu! Aku bagian dari mereka! Mereka yang dulu adalah aku hari ini! Aku telah merugi!