Tak Satu Nama Pun
March 15th, 2010 § 4 Comments
Aku membongkar catatanku tadi malam. Catatan berisi nama-nama dan nomor telepon. Ku baca berulang kali hingga aku yakin tak ada satu nama pun yang bisa ku hubungi untuk memastikan, aku telah menjadi diriku sendiri. Benarkah aku telah kehilangan?
Belum yakin, ku acak-acak phonebook di ponselku. Ku eja satu per satu nama yang terpampang di sana. Aku berbaring kaku sambil tanganku menari di atas tuts ponsel. Hingga lelah, pening, dan mata berair, tak ku dapati satu nama pun di sana. Tidak satu pun untuk mengungkapkan, aku dalam kekacauan.
Aku terlalu khawatir bahwa aku egois, dan agaknya demikian. Hingga Tuhan perlu menegurku dengan kesenyapan. Sepertinya aku juga kerap mengabaikan mereka yang memerlukanku, sampai aku harus diingatkan bahwa roda kehidupan berputar.
Maaf, aku terlalu mengecewakanmu. Dan, kamu pasti melihat, aku sedang menebus kekhilafanku dengan kehancuran. Tapi aku yakin, kamu tak pernah ingin melihat aku jatuh.
Sayang, ini adalah apa yang kita yakini bahwa banyak hal akan kembali pada kita. Dan aku tahu, entah dengan cara bagaimana, aku akan memetik semua bibit yang aku tanam. Berbahagialah kamu.
Pergi…
March 15th, 2010 § 1 Comment
Menjauhlah…
Jangan membuat saya jadi terpuruk
Jangan siksa saya dengan pikiran ini
Pergilah
Jika kamu ingin saya baik-baik saja
Meski saya tahu,
kepergian kamu justru akan membuat saya
semakin terperosok!
Pernahkah kamu
sekali saja berpikir tentang yang terjadi hari-hari ini
Kalau pernah,
beri tahu saya, apa yang kamu pikirkan tentang semua ini
Tolonglah,
saya sudah payah…
Aku Kira
March 15th, 2010 § Leave a Comment
Aku kira kita hanya akan saling menyapa
dan selesai
Ku pikir kita hanya ada di sana
dan mengangguk
Bercerita, berdiskusi, mendebat
dan itu cukup
Aku mengira berhenti di situ saja
Nyatanya tidak
Masih ada yang kita lakukan di waktu lain
Banyak yang kita tertawakan
Kita pikir dan bincangkan
Juga kita amini
Tapi
aku yakin kita tak pernah tahu
bagaimana akhir episode ini
Kita hanya tahu
ini adalah cerita yang kita nikmati
tanpa ingin diakhiri…
Berkumpul, Berbohong
March 3rd, 2010 § Leave a Comment
Aku suka bercengkrama, menatap wajah-wajah orang terdekatku. Memuji mereka, mengomentari diselingi canda, berbagi, dan berusaha menyelami isi kepala mereka. Aku bukan orang baik, apalagi sempurna, mendekati kedua sifat itu pun tidak. Tapi aku juga yakin, aku bukan orang yang tak tahu budi, aku seenaknya, tapi tak ‘kan sampai hati melukai seseorang, terutama mereka. Tak, terpikirkan pun tidak.
Aku berusaha menghargai keterbukaan, dan aku siap meladeni konsekuensinya. Dan, agaknya, aku juga berharap mereka begitu. Harapan yang belakangan ini nampaknya tak perlu. Maaf, aku mulai sinis dengan kebersamaan ini. Dan ini menyakitkan!
Aku agak sulit menerima keadaan hari-hari ini tentang mereka, tepatnya, beberapa orang saja dari mereka. Mungkin, aku mulai kurang waras, meski tak cukup gila untuk bertindak tanpa alasan. Bagiku, ada sebab yang mengakibatkan sesuatu. Pun kondisi ini adalah akibat dari sesuatu-yang-aku-tahu-apa.
Tapi, mereka tak mau peduli, mereka hanya tahu, aku adalah orang jahat. Ya, tidak apa. Endapkan saja klaim itu di pikiran kalian. Aku telah sampai pada gerbang ketidakpedulian. Mereka pun agaknya membiarkan hal ini larut. Atau aku saja yang terlalu temperamental. Hhhhh… alamatkan saja semua kebusukan kepadaku. Mereka memang hanya menginginkan itu. Cukup bagiku untuk menyudahi. Ini terlalu melelahkan, dan membuat mual.
Aku saja yang mundur, tak berkumpul, dan tak perlu berbohong. Membohongi siapa saja bahwa kisah ini masih baik dan menarik.
*Definisku sendiri tentang kegelisahan akan persahabatan*