Rumah Kontrakan di Rempoa
April 20th, 2010 § Leave a Comment
Hari masih gelap ketika saya terjaga pagi itu. Tidak seperti biasa, sebelum jam 6 saya sudah selesai sarapan. Saya menyeret pelan kaki menyusuri jalan yang sudah jarang saya lalui. Jalan persis di gang rumah saya, tempat adik saya terjatuh hingga tak pernah kembali ke rumah. Sengaja melewati jalan itu pagi-pagi, berharap memori tentang adik saya bisa menambah semangat untuk liputan ke Ciputat, Tangerang. Sebuah rute yang cukup melelahkan dari Pengadegan.
Malam sebelumnya, saya sudah menelepon abang saya yang tinggal di wilayah itu untuk minta diantar ke lokasi liputan, tepatnya ke kediaman Dirjen Pajak Tjiptardjo, Komplek Taman Rempoa Indah, Jalan Palm Indah Blok M No 1-2 RT 07/02, Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang, Banten. Agendanya, Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendatangi rumah itu untuk memverifikasi harta kekayaan milik Pak Tjip.
Usaha saya tak sia-sia, karena pukul 08.00 saya sudah tiba di gerbang komplek, meski harus nyasar karena alamat yang diberikan teman saya salah mutlak. Beberapa teman jurnalis sudah sibuk berkutat dengan Nokia E71 maupun Blackberry-nya. “Kalo yang lo maksud mobil pelat merah berisi empat orang, tadi udah masuk (gerbang komplek) sebelum jam 8,” jawab seorang wartawan media online ketika saya bertanya.
Dengan santai, saya mendekat ke pintu gerbang dan berucap salam kepada satuan pengamanan. Si satpam mengarahkan saya menemui seorang perempuan di dalam pos jaga. “Tadi teman Anda juga sudah ada yang ke sini. Tapi kami tetap tidak mengizinkan wartawan masuk. Ini sesuai permintaan pemilik rumah,” jelas Pelaksana Harian (Plh) Manajer Perumahan. Saya, mundur teratur setelah dia menjelaskan, kedatangan wartawan ke kediaman Tjip dikhawatirkan mengganggu ketenangan penghuni komplek.
Menit demi menit bergulir sampai akhirnya sejumlah wartawan dari berbagai media sudah mengerumuni gerbang komplek. Dan, kesepakatan tak tertulis dicapai dalam tempo singkat: kita masuk dengan atau tanpa izin penjaga gerbang! Saat itu, jarum jam sudah di angka 9 tepat. Satu-satunya mobil salah satu stasiun televisi bergerak merapat mendekati muka gerbang disusul puluhan motor. Saya duduk di boncengan fotografer saya dan berada di sisi kiri mobil. Ibu Plh dan tiga sekuriti bersiaga di depan gerbang. Adu mulut dan kericuhan tak terhindarkan.
Sejumlah mobil dan motor dari dalam komplek terpaksa berhenti terhalau kendaraan bermotor milik para jurnalis. Setelah mengalah sejenak, akhirnya kami berhasil menembus “blokade” sekuriti yang dibantu beberapa warga. Tapi, warga komplek lebih banyak yang mengizinkan kami masuk. Malah, seorang ibu mencegat ketika saya berlari menuju rumah Pak Tjip. “Rumahnya bukan cuma itu, neng. Ada lagi di sebelah sana,” kata si ibu penuh semangat.
Berbekal informasi singkat dari si ibu, segera setelah Tim KPK dan Tjip memberi keterangan kepada wartawan, beberapa dari kami lanjut berburu rumah Tjip yang kata si ibu, tak jauh dari komplek itu. Lantas, sampailah kami di depan pagar tembok setinggi lebih dari dua meter. Di dalam pagar tembok, berdiri kokoh rumah Tjip seluas 150 meter persegi di atas tanah 1.645 meter persegi. Menurut penuturan warga sekitar, rumah itu layaknya kebun binatang. Letaknya di Jalan Delima Jaya I RT 06/03 No 40, Kelurahan Rempoa, sekitar 500 meter dari komplek. Sekitar 50 meter dari situ, ada lagi dua rumahnya yang sedang dibangun.
Penasaran, saya dan seorang teman berusaha melihat dengan tegas isi halaman rumah. Melihat ada sebuah gang kecil di samping rumah Tjip, kami menyusuri gang itu. Berharap ada celah. Tapi sayang, rumah-rumah warga itu tertutup rapat karena siang memang sedang terik. Awalnya, kami secara sopan ingin menumpang naik ke lantai dua rumah warga agar bisa melongok ke beranda rumah Tjip. Kami berdua tetap melangkah hingga menemukan sebuah rumah kosong bertuliskan, “Rumah ini dikontrakkan. Hubungi ….”
Tanpa pikir panjang, saya menghubungi sederet nomor telepon di kaca jendela kumal itu. Seorang laki-laki menjawab telepon dengan suara berat.
“Oh, boleh. Kapan mau lihat?” tanya si bapak bersemangat. Suara berat berganti keriangan.
“Sekarang saya sudah di depan rumah kontrakan, Bapak. Kalau boleh, sekarang, Pak?” saya melirik takut-takut ke teman saya yang tersenyum gugup.
Kalian tahu, rumah kontrakan itu terdiri dari dua lantai. Lantai dua rumah itu memiliki beranda sempit yang kami duga bisa melihat langsung ke “kebun binatang” milik Tjip. Itu yang membuat kami memutuskan untuk menelepon pemilik kontrakan.
Seorang ibu paruh baya keluar mengenakan daster sederhana. Tubuhnya kurus, kecil, wajahnya seperti orang baru terjaga dari tidur. Seakan bisa membaca apa yang saya pikirkan, dia buru-buru memberi penjelasan, “Maaf, tadi telepon ke hp ya? Saya tadi lagi salat, jadi gak keangkat.”
Dan, kami berhasil masuk ke rumah kontrakan. Kebohongan pun, dimulai! Kami bohong, karena kami percaya diri tingkat tinggi bahwa si pemilik kontrakan tak akan mengizinkan jika kami hanya ingin memanfaatkan lantai dua kontrakannya untuk memotret halaman rumah Tjip. Saya bilang, saya dan teman saya perlu kontrakan karena kami akan bekerja di sekitar Ciputat. Karena kami akan pindah bekerja dan berharap dapat kontrakan yang bisa ditinggali berdua.
Kami saling memberi kode agar ada yang tetap tinggal di lantai dasar dan naik ke lantai dua. Akhirnya, dengan berdebar saya menaiki anak-anak tangga dan teman saya menemani si ibu di lantai dasar. Benar saja. Muka rumah Tjip sangat jelas terlihat. Tapi siyal, kaca jendelanya macet dan saya tak bisa mengambil gambar dengan jelas hingga terdengar langkah kaki dua orang menuju lantai dua. Saat saya tengah menyesali kesempatan yang terlewatkan, dengan santainya, si ibu bilang, “Kalau mau jemur pakaian, ini pintu bisa dibuka.” Gembel! Beranda rumah Tjip makin jelas terpampang. Setidaknya, sejumlah binatang peliharaan ada di sana, di antaranya 4 ekor ayam merak, 5 ekor rusa, 2 ekor Burung Kasuari.
Teman saya mengikuti langkah kaki si ibu menuju beranda sambil tersenyum. Dengan kode singkat, kami berdua sepakat agar teman saya bertahan di sana dan bergantian mengambil gambar. Diam-diam, kamera poket saya pun sudah berpindah tangan ke teman saya. “Bu, di bawah bisa parkir motor, ya? Bisa liat, Bu?” tanya saya. Jawaban “boleh” si ibu memaksanya kembali turun ke lantai dasar, saya menguntit di belakang.
Saya bertanya ini itu yang dijawab penuh semangat oleh si ibu. Dalam hati, ada rasa bersalah karena telah membohongi si ibu. Belakangan, teman saya juga merasa tak enak. Ketika teman saya selesai mengambil gambar, saya kembali naik ke lantai dua. “Mau liat lagi ya, Bu,” saya beralasan. Karena tadi, saya belum sempat mengambil gambar melalui beranda, kata saya dalam hati. Tak seberapa lama, kami pamit kepada si ibu dan bilang jika berminat, kami akan menghubunginya kembali.
Keluar dari rumah kontrakan, kami memilih jalan ke kanan, untuk mengelabui si ibu dan meyakinkan dia bahwa kami benar-benar mencari kontrakan. Kalau kami mengambil jalan ke kiri, itu berarti kami keluar dari gang dan kembali bertemu teman-teman jurnalis yang masih mengerubung di depan rumah Tjip. Kami curiga, si ibu akan menguntit sampai ke muka gang karena jawaban-jawaban kami tadi banyak yang tidak senada (maklum, kami tak menyiapkan naskah untuk berbohong).
Sepanjang jalan, kami menahan degup jantung karena baru saja melakukan usaha nekad hanya untuk mengambil gambar. Di jalan itu juga terungkap, tak ada satu gambar pun yang berhasil kami bidik dengan baik. Pertama, ketika saya naik pertama kali ke lantai dua, saya terjegal oleh jendela kaca yang macet. Kedua, teman saya tak bisa mengoperasikan kamera yang berhasil dia terima dari saya ketika si ibu membuka pintu menuju beranda. Ketiga, saat saya kembali naik ke lantai dua, saya tak membawa kamera yang ada di teman saya.
Bodoh! Gambar hanya berhasil dibidik menggunakan Blackberry milik si teman, dan ponsel Samsung saya dengan kamera 3,2 megapixel. Tapi sudahlah, toh kami tetap senang. Bukankah, yang penting adalah sebuah proses (usaha), karena hasil adalah urusan Yang Mahakuasa (menenangkan diri dan berkilah mencari pembenaran, heheh).
Kepalang tanggung sudah liputan sejak pagi, di Ciputat pula, saya dan teman saya memutuskan untuk terus mencari informasi tentang rumah itu. Sejak kapan dimiliki, atas nama siapa, berapa harganya, dan sebagainya, dan seterusnya. Hingga samapilah kami ke Kelurahan Rempoa. Panas terik hingga keringat membasahi baju tak kami hiraukan. Saya suka liputan ini, apalagi, kasus yang membelit orang pajak tengah ramai digunjingkan.
Selasa, 6 April 2010
Belum Pernah
April 17th, 2010 § Leave a Comment
Aku belum pernah bilang tentang sesuatu yang bergemuruh di sini
tapi aku rasa suaramu melembut menenangkan
Kamu juga belum pernah tahu,
ada hal yang memaksaku bergeming dan merasakan
tapi ku lihat kamu mengangguk mengiyakan
Kita tidak benar-benar pernah bercerita
tapi kita tahu bahwa akan ada akhir dari kisah ini
Kita belum pernah mengangguk atau menggeleng
kita hanya pernah diam
Tak pernah ada kata sepakat
karena tak ada yang kita bicarakan
Di antara kita hanya ada senyum
tanda sebuah kejujuran dan desiran
dan menutupi kekhawatiran
Dalam rentang jarak di wajah kita
hanya ada hembusan
tatapan
dan keengganan untuk beranjak
dan kita, hanya sebuah angan
Boleh
April 13th, 2010 § Leave a Comment
Kamu boleh berbuat apa saja, yang kamu mau. Asal aku boleh tetap di sini mengamati gerak-gerik kamu. Kamu tak perlu sungkan untuk melakukan kebodohan dan kenistaan apa pun di hadapanku karena aku tak akan terpengaruh. Kalau kamu tahu sebuah ungkapan “bukan karena, tapi walaupun”, rasanya aku sudah sampai di sana. Meski aku tak yakin, seberapa lama aku bertahan di tempat itu. Bukan, agaknya bukan karena kamu atau aku, tapi karena sesuatu yang tak perlu kita bicarakan.
Kamu pun tak perlu sungkan untuk menyebut aku bodoh atau menyindir keburukanku karena memang seperti itulah aku. Bahkan, aku pun tak mau berpura-pura menjadi orang baik hanya demi mendapat angka 8 atau 9 di mata kamu. Aku tak mau seperti itu. Maka itu, kamu juga boleh berlaku apa pun di depanku selama aku tak merasa terganggu. Maka itu, kamu boleh bilang jika aku sudah sampai pada taraf mengganggu kamu. Jika aku mengganggu kamu dengan urusan-urusan sepeleku, kamu boleh bilang. Kamu boleh marah dan berhenti berbicara denganku jika aku telah melewati batas keharusan aku berurusan dengan kamu. Boleh, kamu boleh melakukan semuanya.
Aku pun tak keberatan jika kamu ingin menikmati sendiri saja semua cerita bahagia kamu. Meski tak jarang, aku bisa menangkap gerak visual kamu dalam sebuah percakapan tak sengaja. Kadang, aku tak berani mendefinisikan komunikasi nonverbal yang terjadi begitu saja karena aku khawatir kamu terganggu. Aku, telah membiarkan diriku mengikuti skenario yang kamu bangun. Aku hanyalah lakon yang berperan dalam cerita kamu. Apapun peran yang kamu berikan, pastikan aku menikmatinya.
Jika sudah begini, aku tak berharap egoku muncul dan menagih apa pun dari kamu. Karena sebenarnya, kamu mungkin juga tak tahu apa yang ada di antara kita. Aku sedang berusaha memahami bahwa ini semua adalah sebuah spontanitas di mana tak ada satu pun yang dengan sengaja membentuknya sedemikian rupa. Kita sepakat saja, skenario itu tak pernah ada dan semua ini terjadi begitu saja. Kita, hanya merasa dan menikmati. Maka, kamu boleh melakukan apa pun karena kita tak pernah tahu apa pun.
Sakit Lupa Berat
April 12th, 2010 § 1 Comment
Bukan hanya Nunun Nurbaeti yang sakit lupa berat. Tapi, kita semua! Karena “tugas” kita menjual sesuatu yang menarik hingga akhirnya, isu yang seharusnya dikawal, kandas dilalap wacana yang lebih menjual. Demi rating! Demi oplah! Demi menarik ribuan pembaca dan pendengar! Iya. Memang seperti itu adanya. Terima saja. Mau bagaimana lagi. Akhirnya, semua orang jadi pelupa. Lupa berat seperti Nunun yang katanya sudah singgah di Singapura sejak 23 Februari 2010 untuk berobat. Mungkin mengobati sakit lupa beratnya itu.
Kita semua lupa soal fakta-fakta hukum di waktu lalu yang belum pernah khatam dipreteli. Belum habis dicari tahu dan dibuktikan kebenarannya. Kini, sudah berganti lagi cerita-cerita itu. Penguasa yang kemaruk pun bertepuk tangan karena mudah sekali mengganti tema demi tema untuk muncul di halaman-halaman suratkabar. Mereka yang menentukan angle-anglenya karena mereka pemilik jagad ini. Dan, mereka seenaknya! Sekehendak hatinya! Lalu, di sinilah kita menjadi penonton setia yang tak mungkin mengubah skenario sang penguasa seberapa hebatnya pun kita mengulik fakta dan cerita di lapangan.
Fakta-fakta yang pernah sempat terkuak sedikit, tak pernah tuntas dibongkar. Karena kalau ditelanjangi, mungkin saja akan menyeret banyak pejabat. Jadi ingat pernyataan seoarang wartawan senior dari The Jakarta Post. Dia bilang, “Berani gak kita memberlakukan hukum potong kepala kepada pegawai negeri sipil dan pejabat tinggi lainnya jika mereka ketahuan korupsi? Pasti gak berani. Karena kalau berani, banyak PNS dan pejabat negara kita yang gak punya kepala. Malu nanti ditanya tamu negara kenapa banyak pejabat tanpa kepala di Indonesia.”
Supaya kita tak didera sakit lupa berat itu, kita harus saling mengingatkan. Sampai kita sendiri bosan. Bahwa satu demi satu harus tuntas! Tak boleh cerita baru mengalahkan cerita lama yang belum selesai. Belum selesai Century, belum berkekuatan hukum tetap kasus Anggodo Widjaja yang diduga menghalangi penyidikan dan diduga melibatkan oknum penegak hukum, belum ditangkap Anggoro Widjaja, belum hilang ingatan kita bahwa ada pengemplang pajak yang sering berpesta pora di sana, ada lagi dan masih banyak lagi. Belum juga menguap janji reformasi birokrasi yang didengungkan oleh penguasa! Belum, banyak hal yang belum!
Saya tahu, percuma saja bicara seperti ini di sini. Tapi paling tidak, usaha itu tetap harus dilakukan, seputus-asa apapun kita menyaksikan sendiri kekacauan demi kekacauan ini. Karena percayalah, pada akhirnya semua akan menjadi lebih baik. Kita sedang berusaha keluar dari rintihan ini, dan usaha itu sangat pedih karena kita melihatnya dari dekat. Sama seperti ketika kita mengenal seseorang. Jika hanya tahu luarnya saja, kita hanya melihat bahwa dia selalu tersenyum. Kita tak pernah tahu apa yang ada di sudut hatinya.
*Kita tak akan pernah sampai jika tak pernah melangkah*
….
April 11th, 2010 § Leave a Comment
Aku lihat kamu di sana kemarin malam. Masih seperti kamu yang aku kenal beberapa tahun yang lalu. Tak ada yang berubah, termasuk karakter kamu yang tak pernah bosan aku nikmati: pendiam dan tak banyak menuntut! Aku secara tak sengaja ke tempat itu karena beberapa kawan baikku kerap menghabiskan waktu di sana. Kawan baikku sekarang, yang belum sempat kamu kenal. Kita hanya tak sengaja bertemu, tapi ada kesengajaan yang ku buat ketika aku melewati meja tempat kamu duduk saat menunju toilet. Aku hanya ingin melihat kamu dari dekat.
Ternyata, kamu lebih gila lagi: menunggu aku di pintu keluar toilet perempuan. Kamu, masih saja seperti itu: melakukan hal-hal tak terduga yang aku tak pernah bisa menebak. Bahkan, sampai hubungan kita berakhir, aku belum pernah selalu tepat menebak apa yang akan kamu lakukan dan berikan kepadaku. Kamu, selalu punya hal yang istimewa. Termasuk ketika aku tanya, kenapa kamu berdiri di situ dengan resah. “Aku lagi mikirin alasan bohong apa yang harus aku bilang kalau kamu tanya. Tapi, belum selesai meramu kalimat, kamu dengan tiba-tiba keluar dari sana dan aku tak punya kalimat pembuka untuk berbohong. Aku sengaja nunggu kamu.”
Ya, dan akhirnya terjadilah. Kita berjalan di tempat yang dulu sering kita lalui. Kamu melangkah pelan di pinggir trotoar, dan aku berusaha mengimbangi langkah panjang kamu. Menikmati cerita-cerita lucu dan segar yang keluar dari mulut kamu, tanpa henti. Kalau sudah begini, kamu yang lebih banyak bicara ketimbang aku. Bicaralah terus, aku sedang tak ingin berkata. Hanya ingin menikmati angin dingin bersama suara kamu. Sebelum pukul 21.00, aku tahu aku harus pergi. Ada keengganan berpisah dengan kamu, tak tahu bagaimana dengan kamu.
“Penting banget ya urusan kamu malam ini?” tanya kamu pelan.
Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap ke dalam mata kamu. Kamu selalu awas, dan percaya bahwa mata lebih bisa menyampaikan kejujuran ketimbang lisan. Aku sering mengelak bicara lewat mata, karena tahu, kamu selalu bisa membuatku mengatakan apa pun yang sebenarnya.
“Aku anter, gimana? Aman, kok,” katamu tertawa.
Aku ingin mengangguk, tapi tahu ini akan berakibat panjang. Kita akan kembali berurusan dan berujung pada rasa yang tak kita inginkan. Aku kembali menggeleng dengan kuat, dan berlalu tanpa menoleh. Melepaskan jemari tangan kamu yang dingin dibelai angin malam. Hanya hembusan napas panjang dan berat yang aku dengar ketika kamu mengiyakan kepergianku.
*Tak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku tahu itu.*

