Kehilangan Emosi
April 4th, 2010 § 1 Comment
Ini yang paling saya khawatirkan. Kalau saya sudah kehilangan emosi (baca: marah, senang, gelisah, kesal, cinta, tak ada tempat untuk benci) berarti nampaknya saya sedang datar. Kalau datar, tak punya ide untuk mengisi halaman-halaman cuma-cuma ini dengan tulisan. Saya, tak suka dengan ini. Agaknya, saya dilahirkan sebagai orang yang mengandalkan mood dalam segala urusan, dan ini buruk sekali. Kalau kalian mau tahu, mood itu selalu muncul sekehendak hatinya. Siyal! Mood itu telah mengatur hidupku. Padahal seharusnya, saya yang mengatur dia!
Terakhir saya merasa berirama beberapa bulan lalu. Itu sangat menyenangkan. Menikmati setiap perasaan sedih, gembira, duka, tawa, cinta, kesal, bosan, dan lainnya, dan sebagainya. Tapi sekarang? Datar! Tak ada gegap gempita, tanpa euforia, tidak juga rasa tertekan, atau merasa menang. Tak ada apa-apa di sini. Datar, dan tak menarik. Kalian tahu, bukan, rasanya terpaku, kaku, dan semua bergeming. Tak beranjak, tak ada inisiatif, dan tak merasa perlu melakukan apa pun. Termasuk sekadar memencet beberapa deret nomor telepon yang seharusnya saya hubungi. Tidak, tak juga saya lakukan itu.
Kalau sekiranya saya sedang merasakan sesuatu, emosi itu, nampaknya ada hal yang saya kerjakan. Tapi, tidak! Bergeming saja tanpa jeda. Ooo, atau mungkin, saya sedang menikmati keheningan ini. Sambil menghitung mundur waktu hingga tiba harinya saya akan merasakan kembali emosi itu. Dia kembali dalam wujud dan rupa yang lebih mengerikan atau menyenangkan. Apapun itu, saya lebih suka ada yang bergejolak. Bagaimana pun rasanya, saya siap merasakan, meski harus terseok atau tak mampu berdiri tegak menahan letupan keceriaan atau keterpurukan. Saya menunggu emosi itu.
*Untuk seorang kawan, the show must go on*
saya tidak ingin kehilangan emosi