Piring Kembang di Jalan Jaksa

August 24th, 2010 § 2 Comments

Angin di luar kantor cukup dingin ketika aku membungkus netbook yang masih hangat. Hujan deras seharian tadi tak membuat langit lantas menjadi gelap. Aku meninggalkan kantor dan meminta temanku mencari warung yang menjual soto ayam. Kebetulan dia sedang berbicara dengan temannya di telepon dan kami disarankan menuju ke Jalan Jaksa.

“Tempat biasa kita makan ayam bakar dulu itu,” kata temanku setelah mengakhiri percakapan di telepon.

Aku lantas teringat sebuah tempat yang berada persis di seberang mulut gang kecil di depan sebuah hotel. Aku dulu selalu makan di tempat ini bersama teman-teman kantor satu angkatan. Saking hapalnya pada wajahku, dan terutama seorang temanku yang lain, si ibu pemilik warung kerap memberi kami bonus untuk tidak membayar makanan tertentu. Tapi yang membuatku betah ke sana, ada laki-laki berkulit gelap berpakaian urakan yang pandai berbahasa Inggris. Suaranya renyah dengan wajah menyenangkan. Gayanya asik dilihat. Dia kerap duduk di mulut gang. Aku pernah tak jadi menyuap makananku karena sengaja mencuri dengar percakapan laki-laki itu dengan kawannya. Meja kami tak terlalu jauh.

“Soto ayam, satu. Lo apa?” aku melirik temanku ketika sampai di warung makan. Warung itu terletak di sebelah kanan kalau dari Jalan Kebon Sirih. Yang sering menghabiskan waktu di Kuala Lumpur (KL) Village, ya setelah melewati tempat itu persisnya.

“Soto juga….” sahutnya.

Tak sampai 20 menit, soto ayam dengan kuah berwarna kuning pucat terhidang di meja kami. Mataku menatap sinis pada penampilan seporsi soto yang sama sekali di luar harapan. Ketika aku mengangkat wajah, temanku juga sedang menatap aneh pada sosok soto tak berdaya itu. Kami berpandangan dengan wajah bingung dan kecewa. Tanpa dikomando, kami mengaduknya. Lantas, “Mana bihunnya, ya?” aku malah lupa siapa yang bertanya.

Setelah tenggelam dalam kebingungan dan tertawa penuh penyesalan, temanku bersuara, “Maaaaassss.”

“Iya, Mbak?” si pelayan menghampiri.

“Ini mana bihunnya, ya?” katanya dan ku sambung, “Iya. Kok soto gak pake bihun. Aneh.”

“Kurang ya Mbak bihunnya?” sahutnya lirih.

“Bukan kurang, Mas. Gak ada. Gimana niy?”

Si pelayan mengangkat kedua soto ayam ketika aku mengamati piring kembang warna merah dan kuning yang menampung nasiku. Warna piring dan kondisi nasinya sama sekali tak menarik, kalau tak boleh ku bilang buruk. Pasti beberapa (butir) dari nasi itu ada yang keras. Hanya mamaku dan beberapa orang yang tahu aku tak suka nasi yang beberapa di antaranya keras. Setelah gagal menitahku mencium sambal, temanku menciumnya dan berkomentar, “Asem.” Tampangnya menyedihkan setelah mencium sambal. Aku tergelak dan tak berhenti tertawa sampai pelayan datang mengantar soto ditambah bihun.

“Makasiii,” kami menyahut bersama kepada pelayan yang tersenyum sendu. Mungkin dia merasa kami menertawai jualannya. Tapi salah siapa? Sebelum pelayan berlalu, aku memesan tempe dan tahu goreng. Firasatku mengatakan, aku tak akan berselera mengunyah dan menelan soto berkuah kuning pucat itu.

Soto yang sejak kedatangannya pertama kali tak pernah tampak menggiurkan itu kami aduk dengan lunglai sambil terus menerus tertawa tertahan. Tak enak hati juga rasanya terpingkal-pingkal di hadapan makanan yang malang. Kondisi soto telah melenyapkan rasa laparku. Bihun tambahan itu masih keras, ada kol dan toge dalam potongan yang berlebihan, sementara si ayam mati yang direbus tak sampai 10 irisan. Ah, siyal! Apa kabar kuahnya? Memprihatinkan!

“Tanpa mengurangi rasa hormat, makassiiii ya Kandiiii,” temanku terus cekikikan. Aku memang menraktir soto itu dan benar-benar tak tahan untuk terus tertawa. Posisi dudukku yang persis menghadap si pelayan kurang mendukung. Sedang si teman yang brengsek itu membelakanginya. Terkutuklah dia yang selalu tertawa dan aku harus menjaga perasaan si pemilik warung. Ngomong-ngomong, baru kali ini aku merasa bersalah membayari orang lain makan.

Si tahu dan tempe datang dan aku yakin akan menikmatinya sebagai pengganti soto. Lihatlah, piring apa lagi yang dia pakai untuk menempatkan lauk dari bahan kacang kedelai itu? Okay, cukup! Piringnya dekil. Warna kecokelatan menutupi warna dasarnya yang putih. Aku hanya menatap lemah pada temanku yang melotot kaget. Tangannya terulur menggaruk-garuk warna kecokelatan di piring, dan tertawa keras. Warna kecokelatan itu melekat di sana, mungkin sebuah piring usang. Mau tidak mau aku ikut tertawa. Sigap aku memindahkan tahu, tempe, dan sambal ke piring kembang yang telah lebih dulu merusak menu buka puasa.

Tak banyak yang kami bicarakan sambil menelan makanan-makanan itu. Kami terlalu pedih dengan fakta soal soto dan lainnya. Jangan salahkan aku jika soto itu bahkan setengahnya pun tak habis padahal aku sangat lapar. Temanku hanya menyisakan kuah kuning pucat tanpa sambal. Padahal, bukankah kuah soto (seharusnya) selalu nikmat dan akan dihabiskan bersama isi-isinya? Ah, sudahlah. Aku hanya sedang tak beruntung. Seperti saat aku memesan soto di samping Gedung KPK beberapa waktu lalu bersama temanku dari Koran Tempo yang sekarang sedang berada di Korea Selatan. “Yah, Kandi. Iya siy, ini togenya kebanyakan. Gak menarik ya?” Dan dia tertawa sambil meyakinkanku untuk tetap menghabisinya. Tiba-tiba, aku merindukan Soto Bude di samping kampusku yang belum pernah ku temukan tandingannya dalam hal rasa dan penampilan.

Mendaras Puisi di Jalan Salihara

August 19th, 2010 § 1 Comment

Gelap sudah menguasai seluruh langit ketika aku berada di Jalan Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Usang sekali jalan ini buatku. Pertengahan tahun 2002 adalah terakhir kali aku melewatinya setelah sejak 1996 melintasi jalan itu hampir setiap hari. Tapi dulu itu, (seingatku) belum ada Teater Salihara.

Aku sebenarnya agak penasaran dengan tampilan fisik teater ini jika tak sengaja melintas. Sederhana, tapi menarik, tempatnya teduh, rimbun. Aku tak lama menikmati suasana di sana karena bergegas memasuki ruang teater yang katanya mampu menampung lebih 200 orang. Lampu di kursi penonton sudah padam ketika aku memasuki teater, suara seorang perempuan pembawa acara mengiringi langkahku mencari kursi kosong. Tapi aku abai pada wajahnya.

Posisi strategis, di tengah antara kursi-kursi dan pembaca puisi. Begitu duduk, mataku langsung tertuju pada perempuan pembawa acara. Dan… Ya Tuhan, itu dia: Ayu Utami! Aku membaca beberapa novel “telanjang”-nya, meskipun tak bisa melekatkan ceritanya di memoriku. Yang parah, aku juga sering tak paham dengan ceritanya. Materinya kadang berat untuk kapasitas otakku yang pas-pasan seperti Bilangan Fu itu. Meski tak terlalu menyukai “ketelanjangan”-nya, tapi aku menghargai karya-karyanya, karena aku tak bisa membuat seperti dia telah membuatnya berkali-kali.

Setelah Ayu Utami, si pembawa acara. Lalu, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Remy Sylado (Alif Danya Munsyi), dan D Zawawi Imron. Mereka adalah orang-orang yang membuatku tercekat malam itu. Tercekat karena aku bukanlah orang yang begitu mencintai atau mengikuti perkembangan seni negeri ini. Jadi, penampilan mereka dalam “Mendaras Puisi: Pembacaan Puisi di Bulan Puasa” sangatlah luar biasa buatku. Dan aku yakin, bagi semua yang hadir malam tadi. Keempat orang itu mampu membuat kami di teater itu terpingkal dan jatuh cinta dengan isi puis serta cara mereka membacanya.

To be honest, aku tak pernah tahu Acep Zamzam Noor itu. Mendengar namanya juga sepertinya tak pernah. Ah, kasihan sekali. Padahal puisinya telah cukup menghilangkan penat. Menyusul sebagai pembaca puisi kedua, Joko Pinurbo (Jokpin). Kalau dia, aku telah lama mendengar namanya. Tapi tak sekali pun melihat bentuk manusia yang pernah mengenyam pendidikan pastor itu. Tak juga terlalu ingin tahu apa saja karya-karyanya.

Hanya saja tadi malam, menyenangkan, menghibur, dan menyentuh sekali mendengar dia membacakan Penumpang Terakhir, Mudik, Perjamuan Petang, Penjual Bakso, Sedekah, Telepon Tengah Malam, Kredo Celana, Celana Ibu, dan Dengan Kata Lain. Penjual Bakso, Sedekah, dan Dengan Kata Lain berhasil membuatku jadi emosional. Deret kata-katanya menusuk dan membuatku mengamini. Atau bacalah Penumpang Terakhir jika tak sempat melihat aksinya di pentas Teater Salihara dan tertawalah sekeras kamu bisa selain memetik pesan moral di dalamnya.

Jokpin telah kembali duduk di kursinya ketika seorang petugas teater mengganti standing mic menjadi lebih rendah. Lalu laki-laki paruh baya dengan rambut putih di kepala dan wajah duduk bersila di depan mic. Sepatu putihnya dia lepas dan diletakkan persis di sebelah botol air mineral yang dia bawa. Agaknya Remy Sylado atawa Alif Danya Munsyi akan membutuhkan banyak cairan selama berpentas. Aku tak pernah lihat wajah Remy secara langsung sebelumnya. Hanya saja aku telah membolak-balik halaman “Bahasa Menunjukkan Bangsa” yang dia tulis menggunakan nama Alif Danya Munsyi. Wajahnya terpampang di buku itu.

Berbeda dengan kedua penyair sebelumnya, Remy membuat puisi khusus untuk ditampilkan dalam Mendaras Puisi yaitu “65 Tahun yang Astaga”. Empat penari cantik berpakaian serba hitam mengiringi pembacaan puisi yang bait-baitnya mengkritik pemerintah. Jelas sekali Remy sangat emosional. Sesekali ditenggaknya air mineral di dekatnya sebelum melanjutkan bait-bait itu. Sayangnya, tak ada satu bait pun yang melekat di benakku karena terlalu larut mendengar dan melihat. Hanya saja aku ingat dia menyinggung lumpur Lapindo dan kasus Century.

Ditutup oleh D Zawawi Imron yang aku juga tak pernah mendengar namanya sebelum malam tadi. Dia mengawalinya dengan: Sumpah Kaum Gelandangan yang di antaranya “Kami kaum gelandangan bersumpah bahwa kami tak punya tanah”. Zawawi membacanya seperti demonstran mahasiswa meneriakkan “Sumpah Mahasiswa Indonesia”. Dia begitu unik, menggebu, dan humoris.

Aku akan ingat pilihannya untuk menjadi penyair karena, “Merasa selalu tersesat di jalan yang benar.” Dan dia bilang, “Dari pada selalu merasa benar di jalan yang sesat.” Kalimat itu dia ucapkan ketika ditanya oleh seorang terkemuka di negeri ini. Entah ditujukan untuk siapa kalimat yang diucapkan menyusul itu.

*Sebuah tulisan tentang pengalaman menonton pembacaan puisi dari seorang yang teramat sangat awam dan bodoh*

Kemerdekaan Palsu

August 18th, 2010 § 2 Comments

Biar aku sampaikan sebuah hal: aku tak suka sekadar seremoni, basa-basi, atau sejenisnya! Aku juga tak suka dengan siapa pun, yang selalu bermain-main dengan momentum. Sebut saja begini. Hari ini, 17 Agustus 2010, di usia bangsa yang ke … berapa? Enam puluh lima?  Ya, di usia yang sudah serenta itu selalu saja orang-orang yang makan dari duit rakyat itu bilang, “Inilah saatnya kita….” atau “Jadikanlah momentum kemerdekaan ini sebagai….” dan yang lain bilang “Sudah waktunya kita….” Lantas, kemarin-kemarin apa saja yang sudah Anda lakukan dengan membuang-buang uang rakyat??? Selalu saja mereka berucap begitu setiap tahun!

Contoh yang masih hangat, ya hari ini. Saat aku dengan antusias bergerak menuju Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas I Tangerang, Banten. Provinsi yang dipimpin oleh seteru Marissa Haque ini akan kedatangan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar untuk mengumumkan pemberian remisi kepada warga binaan (nama lain narapidana dan tahanan). Meski tergopoh-gopoh sampai di Kantor Kemenkumham dan disoraki wartawan lain karena mereka semua harus menungguku yang terlambat, tapi aku bersemangat. Entah kenapa, aku selalu suka liputan di LP atau rumah tahanan (rutan).

Rupanya, si menteri datang bersama menteri lainnya, Syarif Hasan, Menteri Koperasi dan UKM. Dia itu kalau tidak salah dari Partai Demokrat. Lalu, saat berkesempatan memberi sambutan (biasa, basa-basi yang selalu tak bermutu), dia bertutur dengan harapan kalimat itu menarik dan membawa manfaat. Begini katanya, “Inilah saatnya kita membangun ekonomi rakyat dengan kemitraan dan kerja sama.” Ya Tuhan, apa katanya? Inilah saatnya? Itulah yang aku katakan tadi, momentum hari raya, hari besar nasional, dan hari-hari menarik lainnya selalu dibuat jadi tidak menarik dengan seremonial memuakkan ala birokrat yang hanya mau berbunyi, tak mau berbuat! Siyal sekali aku (baca: rakyat) memiliki pucuk pimpinan model begini.

Hari ini, lebih banyak orang meneriakkan yel-yel seremonial. Tapi, bukan aku antipati dengan seremoni dan upacara atau sejenisnya. Aku tadi ikut berdiri saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, ikut menyanyikannya dengan bangga dan lantang. Aku juga komat-kamit mengikuti lagu Padamu Negeri dan semua lagu yang dinyanyikan di Hari Jadi Bangsaku ini. Tapi aku muak dengan slogan-slogan kosong, pidato-pidata tak bermutu, spanduk-spanduk berisi bualan, imbauan-imbauan omong kosong, dan kemerdekaan palsu yang selalu dijejalkan oleh penguasa kepada para jelata itu. Aku tak pernah mau pesimistis, dan yakin bahwa rakyat juga tak pernah pasrah. Tapi mereka yang di sana, penjilat-penjilat, dan gerombolan pencuri uang rakyat itu benar-benar tak pernah berbuat apa-apa untuk sekadar meyakinkan publik bahwa kami masih punya harga diri. Lihatlah yang dilakukan Malaysia hari-hari ini, dan banyak lagi.

“… hiduplah Indonesia Raya.”

More Than Enough

August 14th, 2010 § Leave a Comment

Do you remember? This is the day?

Yes, I am. Found you at the corner of bus shelter of Blok M. Exactly look at me with your warm eyes.

And you, walking down surely with your heavy bag, gave me a cool smile, then went out! I thought to myself to catch you:)

I never really left you. Just wanna make sure that warm eyes was given FOR ME! Didn’t you guess it??

I can’t translate your feeling based on your gesture. Hope you show me that you’re mine.

So many girls were at that shelter, didn’t they? Have no brave at all to believe what my eyes said. You are too symphatic.

I won’t loose to take your siluet till the bus bring you far from me. Won’t feel regret in my whole life, so decided to say, hello:)

It was a time that I won’t forget. Wanna shouted hardly, getting your coming! Found you too close to me on the way to library.

Then we talked about everything, bring us getting so close. Unbelieveable moment! What a great life.

Stop having a willing! God gave me all things in your warm hug. No other things I need.

This life is just all about you. Never feel less as long as you stay with me. You are more than enough

*One day at the shelter*

Kisah Terdakwa Korupsi

August 8th, 2010 § Leave a Comment

Jam makan siang. Mantan Komisaris PT Kimia Farma Trading & Distribution Budiarto Maliang terisak di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (27/7). Maliang duduk di kursi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat rontgen portable di Puskesmas di daerah tertinggal pada 2007.

Agenda sidang hari itu adalah pemeriksaan dirinya sebagai terdakwa. Bersama-sama dengan rekannya, Maliang didakwa melakukan pidana korupsi yang merugikan negara sebesar Rp9,48 miliar. Dalam pengadaan alat rontgen itu, Maliang didakwa ikut menerima uang Rp2,45 miliar.

Isak tangis Maling terdengar ketika Anggota Majelis Hakim Agus Salim menanyakan hal-hal lain yang ingin dia sampaikan dalam persidangan tersebut. “Saya tidak pernah terpikir bahwa akhirnya saya ditahan KPK. Di mana, saat istri saya meninggal dia menitipkan anak-anak kepada saya,” ucap Maliang sambil tersedu. Suaranya hampir tak terdengar. Tenggorokannya tercekat isak tangisnya sendiri.

Pengeras suara yang dia gunakan tak mampu membuat suaranya terdengar lebih jelas. Mejelis Hakim membiarkan Maliang larut dalam emosi. Salah seorang anggota tim penasihat hukum Maliang bahkan sampai perlu mengantar sapu tangan untuk mengeringkan air matanya yang semakin deras, namun ditolak Maliang. Dia sibuk merogoh saku celana dan menyapu wajah dengan sapu tangan miliknya.

Tampak sekali Maliang terpukul oleh pidana yang didakwakan terhadapnya. Pada 25 Januari 2010, saat KPK menetapkannya sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta, Maliang juga menangis. “Saat ini, sebagai orang tua tunggal, saya melalaikan kewajiban sebagai orang tua. Saya mohon, saya mendapat hukuman yang meringankan,” lanjut Maliang setelah sedikit mampu menguasai dirinya.

Kepada majelis hakim, dia bercerita memiliki dua anak perempuan yang belia, usia 20 dan 18 tahun. Dia menyesali diri tak menjalankan amanah almarhumah sang istri untuk menjaga putrinya. Pengadilan Tipikor memang memunculkan banyak peristiwa emosional. Ada yang menyesal, ada pula yang berkeras membantah dakwaan, sekalipun jelas fakta hukum dan alat bukti menyebut keterlibatan orang tersebut dalam kasus korupsi.

Anggota Majelis Hakim Pengadilan Tipikor dalam perkara Maliang, Nani Indrawati menyebut, Maliang sebagai terdakwa yang “baik”. Nani mengatakan, Maliang kooperatif dan mau membeberkan kasus yang menyeret dirinya sebagai pesakitan di Pengadilan Tipikor. “Dia (Maliang), saya nilai sebagai terdakwa yang nice. Dia mau menceritakan detil kasusnya, dan tidak merepotkan kami,” kata Nani.

Nani menyebut, tangisan Maliang sebagai bukti penyeselannya atas tindak pidana korupsi yang dilakukannya. Penyesalan itu bisa menjadi salah satu hal yang akan meringankan hukuman Maliang. Termasuk karena sikapnya yang kooperatif dan sopan di pengadilan. Seburuk apa pun tindak pidana korupsi yang dia lakukan, Maliang mengakui tindakannya salah dan siap menerima hukuman. Maliang masih punya malu karena telah memperkaya diri dengan uang negara, rasa malu yang tidak banyak dimiliki oleh para koruptor di negeri ini. Yang dengan bahagia masih terus mengeruk uang negara. Tapi tentu saja, Maliang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kalau terbukti mencuri uang negara.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for August, 2010 at || kisahku di sini ||.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 220 other followers