Maaf, Dik
January 15th, 2011 § Leave a Comment
Jalan raya di hadapanku lengang. Hanya satu dua kendaraan bermotor yang menderu. Angin dan gelap duduk bersamaku ditemani suara besi yang beradu. Kami berempat, aku, temanku, dua orang teman dari temanku duduk berkeliling, menertawakan apa saja yang tampak. Angin pun kalau tertangkap mata kami, mungkin juga ditertawakan.
Cerita silih berganti, kadang serius kadang kelakar. Mungkin meja kami yang paling berisik di antara yang lain. Tapi siapa peduli? Lantas tawa berubah menjadi agak emosional ketika temanku bercerita tentang kekurangajaran petugas maskapai penerbangan. Temanku sedang berada di Bali untuk liputan, dan dia harus segera kembali ke Jakarta karena ayahnya pergi untuk selamanya.
Petugas-petugas sialan itu malah menimbang-nimbang, apakah mendahulukan perempuan yang ayahnya akan segera dimakamkan itu atau seorang eksekutif muda yang ada janji main golf di Jakarta. Temanku dan si eksekutif muda itu sama-sama masuk waiting list. Ya Tuhan, doaku untuk petugas maskapai itu dan untuk kalian yang tidak pernah kehilangan seseorang yang sangat kalian sayangi, berbahagialah selamanya.
Pasti tidak mudah berdiri di atas kaki sendiri yang rasa, pikir, dan raganya sudah melayang entah ke mana. Harus menguras energi karena berurusan dengan orang lemah otak untuk memohon satu tiket yang tidak gratis. Orang gila memang berbaur dengan si waras di sini. Segala serapah juga pernah aku lontarkan sekaligus ketika berurusan dengan petugas apotik.
“Mba, ditunggu ya,” seseorang di balik kaca yang bagian bawahnya terbuka berkata kepadaku.
“Iya,” kataku pelan sambil mengangguk dan mundur teratur. Beberapa lama aku duduk, tapi tidak ada pergerakan di ruang obat itu. Secarik kertas resep yang aku angsurkan masih tergolek tidak tersentuh. Perempuan yang tadi menerima resepku terlihat asik mengobrol dengan temannya di loket sebelah.
“Mba, kok belum ya resep saya?” tak tahan aku menghampirinya dan bertanya, pelan.
“Oh, tunggu ya Mba. Soalnya yang urus obatnya lagi rapat.” Dia kembali bercengkrama dengan temannya.
Badanku mulai bergetar, antara marah dan sedih. Ya Tuhan, adikku koma di sana dan dia butuh obat ini untuk sekadar memperpanjang napasnya. Obat langka, belum tentu apotik sialan itu memilikinya. “Apa Mba? Rapat? Yang jaga obat rapat dan gak ada yang gantiin?” tanyaku dengan suara mulai parau.
“Gak ada Mba. Semuanya rapat sama pimpinan….”
“Ade saya koma di rumah sakit Mba! Dan dia butuh obat itu sekarang!”
“Tunggu aja sebentar lagi Mba. Rapatnya mungkin sebentar selesai…..”
“Tunggu sebentar lagi? Anjin* lo ya! Gue bisa nunggu apoteker di sini sampe tahun depan kalo perlu! Tapi ade gue koma dan butuh obat itu sekarang!”
Si penjaga apotik itu lari terbirit-birit ke lantai atas. Lama di atas, tap dia tetap turun seorang diri dan itu membuatku makin menjadi-jadi. “Sebentar lagi turun, Mba,” katanya sebelum aku buka suara.
Sambil menunggu, aku tak tahan membiarkan mulutku mengatup, “Mba, boleh tanya? Apakah selalu, kalo rapat, petugas obatnya gak ada yang gantiin???” Si petugas diam, aku melanjutkan, “Udah berapa banyak keluarga pasien yang ngajak manajemen apotik berantem karena masalah ini???” aku masih emosi.
Lalu si petugas obat turun dan berbasa-basi, “Maaf Mba, tadi saya harus rapat sama pimpinan….”
“Lo rapat sama presiden juga gue gak peduli, Mba. Kasian ya pimpinan kalian, sakit jiwa! Masa orang koma disuruh nunggu orang rapat baru bisa tebus resep??!!! Aku benar-benar mengabaikan bahwa hari itu aku masih berpuasa, hari ke-12 Ramadan.
Benar, kan? Obat itu tidak sepenuhnya ada di sana dan aku harus mencari tambahannya ke apotik lain. Emosiku sudah meluap dan di sana, dalam jarak puluhan kilometer, di sebuah kamar gawat darurat rumah sakit, adik perempuanku berbaring. Sisa napasnya hanya satu-satu. Mesin deteksi jantung miliknya masih berkelok-kelok. Masih ada harapan, aku harus berusaha untuk sekantong obat itu.
Esok harinya, adikku menyelesaikan kontrak hidupnya dengan Sang Khaliq. Dia pergi setelah sempat mencicipi obat yang aku bawa hari kemarin. Maaf, Dik, aku tidak suka dengan apa yang mereka lakukan terhadap pasien-pasien penebus resep. Maaf, Dik. Mungkin kamu sedih karena aku masih saja meratap. Kamu, pergilah dengan tenang dan aku tidak pernah menyesali keputusan Sang Mahapengasih karena mengambilmu. Maaf Dik, atas semua keburukan yang aku lakukan dan mengusikmu. Berbahagialah di sana, di surga bersama-Nya.
Belakang Mabes Polri
January 15th, 2011 § 1 Comment
“This is totally rejected!”
Itu komentar pertama tentang tulisanku di kantor yang baru aku masuki 1 Desember 2010. Aku terbahak, menertawakan diri sendiri. Karena, jangankan orang lain yang memahami dunia yang aku geluti sekarang (baca: ekonomi). Aku yang masih buta saja gerah lihat tulisan perdanaku itu.
Tulisan compang camping, dikerjakan oleh wartawan kemarin sore yang selama 3 tahun 3 bulan sibuk berkutat di kehidupan hukum. Wartawan yang dipandang sinis oleh beberapa orang karena nekad terjun ke dunia ekonomi. Oh, bukan hanya sinis, mereka malah bilang aku tidak akan bisa berbuat banyak di bidang ini. Iya, itu bisa saja terjadi, tapi kemungkinan selalu lebih dari satu.
Aku bukan sedang berjudi dengan pekerjaanku atau menjajal-jajal peruntungan. Ini adalah keputusan yang sudah ku ambil. Sama saja seperti ketika aku nekad kuliah jurnalistik yang ditentang Bapak. Tugasku sederhana, hanya membuktikan kepada beliau bahwa aku berusaha bisa! Dan aku masih dalam proses pembuktian itu hingga hari ini.
Ini juga, sama saja seperti ketika aku menjalani hari-hari pertama di Mabes Polri. Saat itu, aku hanya tahu bahwa aku adalah wartawan yang harus siap ditugaskan di manapun. Mabes Polri, aku tidak pernah membayangkan akan ada di sana, sedikitpun! Karena aku berharap meliput aktivitas politik, desk yang akhirnya sangat aku hindari dalam kehidupan jurnalistikku. Menghindari omong besar politikus korup!
Lalu di sanalah aku, Agustus 2007. Bertemu aparat negara berseragam cokelat muda dan tua, berkenalan dengan wartawan yang sudah lebih dulu menetap, dan berterima kasih kepada mereka tanpa terkecuali untuk kebaikan atau pun hal-hal tidak semestinya yang ada di sana.
Dulu itu, setiap selesai deadline, aku dan 13 orang teman seangkatanku di kantor, bertemu redaktur masing-masing. Sama saja. Tulisanku dicorat-coret, dibilang buruk, strukturnya kabur, anglenya tidak layak muat, dan lainnya, dan sebagainya. Kaget juga saat itu, tapi hidup belum selesai dan pekerjaan baru saja dimulai. Beberapa lama bolak-balik ke Jalan Trunojoyo, sepertinya aku bisa memenuhi keinginan redakturku saat itu.
Jadi sekarang, setelah berkantor di belakang Mabes Polri, rasanya aku seperti mengalami lagi awal-awal menggeluti dunia ini. Liputan, ditulis, dan kacau. Pada jam-jam makan siang di kantor sekarang ini, aku diingatkan tentang hari-hariku berpeluh di Trunojoyo. Karena aku ada di sekitar sana, aku makan siang di belakang Mabes Polri, di tempat aku mengawali pelajaran pertama sebagai kuli tinta.
Kalau aku rajin, seharusnya aku bisa melewati urusan-urusan ini, mengganti kekacauan dengan sesuatu yang luar biasa. Aku pun dulu buta hukum dan semoga tidak ada bedanya dengan yang aku geluti sekarang. Apalagi, lingkungan kerjaku juga kondusif. Maksudku, beberapa dari mereka juga tidak waras, konyol, dan bisa membunuh kejenuhan. Aku pun tidak punya alasan untuk mundur teratur. Selamat belajar!
“Aku rasa semua yang ada dalam artikel-artikelku adalah petasan-petasan kecil. Dan aku ingin mengisinya dengan bom.” *Soe Hok-gie*
Adakah di Negara Kita?
January 15th, 2011 § Leave a Comment
Judul novelnya terlalu hukum, sangat hukum. Tapi saya justru tergelitik pada persoalan ekonomi yang hanya menjadi bagian kecil dalam novel ini. Bisa saja ini karena saya sekarang menjadi “anak” ekonomi, tapi saya masih mengantongi sisa ingin tahu pada bidang hukum hingga masih suka membaca novel hukum ketimbang ekonomi (apakah ada?). The Last Juror karya John Grisham menceritakan tentang seorang wartawan muda, Willie Traynor, yang bekerja di koran mingguan county di Clanton, Alabama. Traynor menulis berita tentang sidang pemerkosaan dan pembunuhan terhadap single parent beranak dua. Novel ini secara keseluruhan lebih banyak bicara hukum, disuguhkan dengan cara yang konyol dan menggelitik tapi serius.
Pada suatu waktu di tahun 1978, Clanton kedatangan Bargain City, perusahaan ritel raksasa yang menyediakan segala jenis kebutuhan masyarakat. Clanton pada waktu itu digambarkan sebagai kota yang berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa. Saya baru saja membuka Wikipedia dan membaca bahwa kota itu didiami oleh sekitar 7.800 jiwa pada tahun 2000. Kedatangan Bargain City menuai kontroversi: sebagian kecil menolak dan gelombang besar lainnya mendukung didirikan toko-toko megah, seperti yang sudah dilakukan di sejumlah kota lain di Amerika Serikat waktu itu. Dewan Kota akhirnya menggelar dengar pendapat tentang boleh tidaknya Bargain City mengubah wajah Clanton. Traynor ada di sana, meliput dan terlibat aktif untuk menolak.
Dalam dengar pendapat yang dilangsungkan di Ruang Dewan Kota, Juru Bicara Bargain City memberi gambaran yang meriah mengenai pertumbuhan ekonomi, penghasilan dari pajak penjualan, 150 pekerjaan untuk penduduk setempat, dan produk terbaik dengan harga paling murah. Sejumlah pemilik toko setempat menolak, beradu argumen dengan siapa pun yang menyetujui pembangunan toko-toko Bargain City. Dan, inilah yang disampaikan Willie Traynor, si wartawan 24 tahun sekaligus pemilik The Ford County Times, koran mingguan Clanton:
Sebagian pekerjaan yang dijanjikan Bargain City merupakan pekerjaan dengan upah minimum. Peningkatan penghasilan dari pajak penjualan didapat dengan mengorbankan para pedagang yang dengan cepat disingkirkan oleh Bargain City. Penduduk Ford County tidak akan begitu saja terjaga pada suatu hari dan tiba-tiba mulai membeli lebih banyak sepeda dan lemari es hanya karena Bargain City memiliki etalase yang lebih memesona.
Aku menyinggung kota Titus, sekitar satu jam ke selatan dari Clanton. Dua tahun sebelumnya, Bargain City membuka toko di sana. Sejak itu, 14 toko pengecer dan satu kafe telah tutup. Aku menyinggung kota Marshall, di Delta. Dalam tiga tahun sejak Bargain City dibuka, dua apotek, dua toko swalayan kecil, toko besi, butik pakaian wanita, toko cendera mata, toko buku kecil, dan dua kafe telah tutup. Aku sempat makan siang di kafe yang tersisa dan pramusajinya, yang telah bekerja di sana selama 30 tahun memberitahuku bahwa bisnis mereka kurang dari separo dibandingkan dulu. Aku menyebut kota Tackerville, yang setahun setelah Bargain City berdiri, kota itu dipaksa menghabiskan 1,2 juta dolar untuk perbaikan jalan agar lalu lintas di sekitar areal perkembangan menjadi lebih teratur.
Kuberikan salinan hasil penelitian yang dilakukan dosen ekonomi di Universitas Georgia kepada Wali Kota dan Anggota Dewan Kota. Dosen itu mengikuti perkembangan Bargain City selama enam tahun serta mengevaluasi pengaruh finansial dan sosial dari kehadiran perusahaan itu terhadap kota-kota yang berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa. Penghasilan dari pajak penjualan kurang lebih sama; penjualan hanya beralih dari para pedagang lama ke Bargain City. Jumlah pekerjaan lebih kurang sama; para karyawan toko lama di tengah kota digantikan oleh para karyawan baru di Bargain City. Perusahaan ini tidak menanamkan uang yang cukup besar di masyarakat, selain lahan dan gedungnya. Malahan, perusahaan itu tidak mengizinkan uangnya berdiam di bank setempat. Setiap tengah malam, penerimaan hari itu dikirimkan ke kantor pusat di Gainesville, Florida.
Penelitian tersebut menyimpulkan, ekspansi jelas merupakan langkah yang bijak bagi para pemegang saham Bargain City, tapi secara ekonomis menghancurkan sebagian besar kota kecil. Kerusakana yang sebenarnya terjadi pada sisi budaya. Dengan toko-toko yang tutup dan trotoar yang sepi, kehidupan kota yang kaya di jalan-jalan utama berakhir dengan cepat.
Petisi yang mendukung Bargain City berisikan 480 nama. Petisi kami yang menentang kehadirannya hanya 12 nama. Dewan Kota memilih secara mutlak, 5-0 untuk menyetujuinya. Aku menulis editorial yang keras dan selama sebulan membaca surat-surat pedas yang ditujukan kepadaku. Untuk pertama kalinya, aku disebut “pecinta pohon”. Dalam waktu sebulan, buldozer-buldozer telah meratakan tanah. Dengan besarnya uang yang ditanamkan, Bargain City tidak membuang waktu membangun gedung, peresmian akan digelar pada 1 Desember, tepat waktu menyambut Natal. Dalam waktu singkat kota telah menyetujui pompa bensin, swalayan, toko serba ada, tiga restoran cepat saji, toko sepatu diskon, dan toko perabotan diskon.
Pada 1 Desember, Wali Kota, Senator, dan para tokoh lainnya memotong pita peresmian. Segerombolan orang menyerbu masuk dan mulai berbelanja seperi orang kelaparan yang menemukan makanan. Aku menolak menerbitkan liputannya di halaman pertama. Aku membenamkannya di halaman tujuh, tidak lebih dari berita kecil, dan tindakan ini memicu kemarahan Wali Kota dan Senator serta tokoh lainnya. Mereka mengharapkan acara peresmian diberitakan besar-besaran.
Masa Natal menyedihkan bagi para pedagang tengah kota. Tiga hari sesudah Natal, toko Western Auto berusia 40 tahun mengumumkan penutupannya, sebagai korban pertama dari Bargain City. Toko itu menjual sepeda, peralatan rumah tangga, dan televisi. Pemiliknya memberitahuku bahwa untuk televisi berwarna dia harus membelinya seharga 438 dolar, dan sesudah memotong harganya beberapa kali,dia harus berusaha menjual seharga 510 dolar. Tapi model yang sama diobral di Bargain City seharga 399 dolar. Penutupan Western Auto menjadi berita di halaman pertama koranku.
Di bulan Januari korban berikutnya jatuh, Apotek Swain’s di samping Tea Shoppe, lalu Maggie’s Gift di samping toko pakaian. Setiap penutupan kuperlakukan seperti layaknya kematian, dan tulisan-tulisanku menebarkan kesan seperti berita kematian. “Kau terlalu banyak berkhotbah dan tidak ada yang mendengarkan,” kata Harry Rex (pengacara Willie Traynor).***
Saya belum banyak tahu tentang hal-hal yang disampaikan John Grisham melalui Willie Traynor sebagai tokoh utama dalam novelnya itu. Apakah cerita fiksi usang yang terjadi di Clanton pada 1978 itu juga terjadi di negeri ini, saya tidak tahu. Adakah di negara kita catatan mengenai pertumbuhan ekonomi lebih banyak rakyat yang menjadi pesat atau sebaliknya setelah menjamurnya industri ritel raksasa di setiap sudut kota? Saya tidak tahu. Dan, apa kabar daerah resapan air di negeri ini? Saya masih tidak tahu. Tidak bermaksud sinis, ini benar-benar pertanyaan dari saya yang awam. Semoga belum terlambat untuk sekadar bertanya. Oh, tentu saja hal-hal buruk itu hanya terjadi di wilayah berpenduduk kurang dari 10.000 jiwa, bukan di sini, di negara ini. Bukan.
*Thank you, Mr Grisham. You force me to think*