Kehabisan Diksi
December 27th, 2011 § Leave a Comment
PONSELKU bergetar lembut diiringi nada dering yang sudah ku setel berbeda dari panggilan lain. Dengan semangat maksimal edisi orang yang baru bangun tidur, aku menjawab telepon itu dan suaranya ku dengar kemudian. Suara yang entah bagaimana menjadi sangat berarti buatku.
Dia bicara apa saja, menggoda, tertawa, hingga sedikit bicara agak lebih serius. Aku mendengarkan dengan teratur ketika dia bercerita, “Mau tau gak sahabat gue bilang apa?”
“Apa?” kataku singkat dengan perasaan sangat ingin tahu.
“Dia ngeh katanya ada aura yang beda dari kita berdua pas waktu kenalan itu….”
Tersenyum, hanya itu yang aku lakukan di ujung telepon. Aku yakin pasti orang-orang lain yang dekat dengan kami akan merasakan aura itu. Karena di hari aku berkenalan dengan sahabatnya, aku memang sudah berpikir lebih banyak tentangnya, tentang kami. Walaupun aku tak berani menyimpulkan apapun dan aku tahu persis aku hampir tidak bisa menyembunyikan apapun.
Aku menggodanya dengan mengatakan bahwa semua orang sadar kecuali dia. Tapi jauh di dalam hatiku, aku bersyukur karena Tuhan telah mengantarkan seseorang yang sangat berharga. Yang tidak memiliki praduga tertentu sekalipun halal jika memang dia merasa. Berharga karena tak berharap apapun atas begitu banyak ketulusan yang dia berikan.
Aku lalu kembali mengingat percakapan menjelang pagi itu. Aku kira sebelumnya, aku adalah orang yang paling tulus, aku sulit berharap, dan melakukan semua hal karena begitulah aku adanya: tak mengharap balasan. Tapi aku salah! Karena ada yang lebih tulus dariku dan dia membuktikan semuanya. Di atas langit masih ada langit, banyak pelajaran sejenis ini yang aku pelajari dari dia. Dari hal sekecil apapun hingga hal yang begitu besar dan sangat berharga ini.
Kalau aku boleh bergumam, sepertinya ini yang disebut akan indah pada waktunya. Dua ketulusan ini terbayar justru di saat kami sama-sama menghadapi persoalan yang membuat kami berdua begitu marah dan lelah. Karena jika dihitung mundur, kami sebenarnya selalu berada di tempat yang sama di waktu yang lalu. Dia dengan ketulusannya beraktivitas, aku dengan kegiatanku.
Aku telah kehabisan begitu banyak kata belakangan ini. Diksi-diksi yang pernah memenuhi benakku seakan tak pernah cukup untuk mengganti rasa syukur yang teramat sangat. Dan percakapan telepon pagi menjelang siang ini juga makin membuatku kehilangan kata. Mungkin aku perlu membaca lebih banyak kamus untuk memperkaya kosakataku. Dan semakin memperbanyak sujudku atas nikmat Tuhan yang begitu melimpah.
Tepat ketika aku menyudahi kalimat terakhir dalam catatan ini, ujung mataku menangkap Halte Semanggi telah dekat. Aku bergegas dan mendapati matahari telah sangat tinggi lalu berjalan pelan menyusuri jembatan transit terpanjang sambil menikmati belaian angin. Lagu yang ku putar berkali-kali menghentak lewat headphone, dan aku bertutur pelan: kamu adalah nikmat Tuhan yang dipercayakan kepadaku untuk aku jaga selamanya.
*Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman)
Pagi Selalu Kembali
December 24th, 2011 § Leave a Comment
LALU sosokmu menjadi begitu nyata
Sangat dekat
Hampir tidak asing lagi bagiku
Dan segera saja aku merasa diliputi kemewahan
Perasaan usang yang hampir tidak aku ingat cara kerjanya kini menyeruak tiada henti
Menabrak keangkuhan dan kekerasan hatiku
Membiarkan getar-getarnya menjalari seluruh tubuhku
Dan aku sudah tak lagi berjarak dengan rasa ini
Kalau aku pernah hampir lupa ada sebuah diksi yang selalu membuat orang bernapas lebih panjang
Menjadi lebih tenang
Merasa begitu sempurna dan kaya
Bahkan ketika tak sepeser pun receh di saku
Kini diksi itu kini selalu ada mendiami hariku
Melebur bersama setiap detikku
Dan luruh bersama rasa yang aku coba ungkapkan dengan sederhana
Membuatku tak pernah lelah memahami
Menuntunku untuk selalu menikmati
Dan mengizinkanku menjadi yang paling beruntung
Pagi akan selalu kembali
Seperti aku yang akan kembali mengingatmu setelah lelap memaksaku lupa
Malam akan datang menjelang
Seperti rinduku yang akan semakin lekat
Bulan tetap benderang
Seperti cerita kita yang tak akan pernah redup
Bintang akan selalu menerangi
Seperti suaramu yang menggenapi indahnya hariku
Tidak Pernah Habis
December 23rd, 2011 § 1 Comment
AKU ingin bilang, aku tidak ingin apapun kecuali tetap bersama kamu hari ini dan selamanya. Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukannya, tapi aku menikmati setiap detiknya. Kamu tahu, aku bisa sangat sedih ketika kamu sedih. Dan entah bagaimana akan merasa begitu bahagia ketika kamu merasakan kebahagiaan itu.
Mungkin kamu tidak pernah tahu dan tidak pernah sadar apa yang telah kamu berikan padaku sehingga aku merasa begitu beruntung mendapati kamu menemani hari-hariku. Tapi itu yang terjadi. Kamu memberikan semuanya, semua yang kamu miliki untukku. Kamu begitu lembut, begitu baik, sangat tulus. Kamu tidak pernah menyakitiku dan selalu memaafkanku. Kamu tidak tertarik mencampuri urusan orang lain, kamu begitu menyayangi ibumu, kamu sangat sopan dan menghargaiku. Kamu tidak pernah menuntut, kamu memberikan yang terbaik, kamu sangat sederhana, dan kamu sangat memerhatikanku.
Ucapan terima kasihku sebanyak apapun tak pernah cukup untuk membalas semua perhatian dan kesederhanaan itu. Tapi aku akan memberikan semua yang kamu berikan kepadaku agar kita menjadi seimbang. Bukan, bukan hanya karena aku mencintai kamu. Tapi juga karena aku bangga memiliki seseorang seperti kamu. Yang mau berusaha keras, yang mau belajar tekun dan giat, yang tak pernah mengeluh, yang tidak pernah lelah, yang begitu sederhana tetapi sangat luar biasa. Kamu melakukan hal luar biasa pelan-pelan dan tanpa suara. Tak perlu diketahui orang lain tapi kamu sedang menyelesaikannya satu per satu.
Kamu tahu, hanya orang luar biasa yang bisa aku dengarkan ucapannya, yang aku dengarkan nasihatnya, yang aku ikuti perkataan dan tindakannya. Kalau kamu belajar banyak dari aku, aku pun sedang melakukan hal yang sama tanpa kamu sadari. Aku belajar cara menjadi sederhana dan menjadi lebih baik, dari kamu. Dan kita akan selalu belajar bersama untuk apa yang kita jalani hari ini dan selamanya.
*Kamu harus tahu bahwa rasaku tidak pernah habis dan tidak akan berakhir.
**Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
**Sapardi Djoko Damono dalam Aku Ingin
Tak Ingin Mengulang Waktu
December 17th, 2011 § Leave a Comment
JALAN raya menjelang sore itu penuh disesaki derasnya kendaraan bermotor. Cuaca hampir mendung. Ada bau hujan yang tersamar asap hitam bus besar, sedang, dan angkutan kota. Semua ikut berjejal mengantar satu demi satu penumpang. Kami ada bersama riuhnya penumpang sebuah bus sedang, menuju ke tempat yang dulu menempa kami. Persis di halte depan taman yang tidak terurus, kami turun. Tinggal menyeberang jalan dan dalam beberapa langkah lagi kami akan sampai di sana.
Di tempat yang sama, menimba ilmu yang sama, guru yang sama, dengan waktu yang hampir berbarengan dan lingkungan yang hanya dibedakan oleh jargon. Yang juga sama: kami sama-sama tidak saling kenal. Lantas di sinilah kami sekarang. Aku menghitung mundur waktu dengan memori dan cerita berbeda di lokasi yang sama, sama persis!
Aku berkali-kali mencoba mengingat apakah di sini aku sebenarnya pernah menangkap sosok pendiam dan lembut yang saat ini mengisi hari-hariku? Adakah aku mungkin pernah tak sengaja bertemu entah di koridor sebelah mana dengan dia tanpa aku sadari? Sampai aku habis merekam ulang peristiwa sepanjang empat tahun di sini, aku tak menemukan jejak apapun tentang dia. Dan percayalah, fakta ini adalah skenario Tuhan yang paling indah untukku, untuk kami.
Aku bahagia karena tak pernah mengenalnya selama belajar empat tahun di sini, karena aku yakin segala yang sudah terjadi adalah yang terbaik. Kalau aku sudah mengenalnya di tempat kami belajar ini, mungkin tidak akan ada keindahan yang kami lalui belakangan. Mungkin juga kami tidak bisa sedekat ini karena jujur saja saat itu aku belum memikirkan untuk memiliki seseorang yang sangat berharga. Fokusku saat itu hanya belajar, berorganisasi, belajar, dan berorganisasi. Lalu Tuhan mengirimka dia untukku hari ini dan selamanya.
Kami duduk di bangku semen bulat dengan meja bundar penuh di bagian paling belakang sore tadi. Kami baru saja bertemu seorang dosen favoritku yang juga adalah ibuku, yang pernah mengomeliku dan pada waktu yang sama juga sangat menghargai sikapku terhadap banyak hal. Angin sore yang hampir dingin menyentuh tubuh kami seakan ikut merayakan kebersamaan ini.
Di kepalaku, berkelebatan banyak hal. Tentang yang aku lakukan sepanjang empat tahun tanpa dia di sini, dia yang tadi sore duduk merokok sambil menggodaku dan mengomel. Mengomel karena aku melakukan kebiasaan yang tidak dia suka. Aku mengingat semua jenis emosi yang pernah aku rasakan dan pelajari di sini. Dan sekarang aku juga ingin memelihara semua rasaku untuk dia. Aku ingin belajar apapun agar aku bisa memberikan yang terbaik.
Di sini aku juga menapaki setiap persoalan seringan dan seberat apapun saat itu dan aku ingin mengulangnya bersama dia saat ini dan seterusnya. Aku tak mau mengulangi kesalahan konyol apapun yang akan membuatnya sedih, kecewa, dan apalagi menyakiti hatinya. Aku ingin menjadi yang paling mengerti tentang dia, yang dia suka dan tidak, tentang apa yang dia impikan dan dia abaikan, tentang semua. Aku mengamini perkataan dia beberapa hari lalu bahwa waktu tak mau berjalan lambat ketika kami bersama. Karena dengan cepat hari berubah gelap. Kami melangkah pelan menuju gerbang, meninggalkan kenangan dan melanjutkan masa depan.
**Aku tak ingin mengulang waktu untuk berjumpa denganmu di sini. Karena aku telah menemukanmu saat ini dan sampai akhir nanti.
Jangan Berhenti
December 14th, 2011 § Leave a Comment
KEBODOHAN itu terang, tidak samar. Aku membaca pelan-pelan kebodohanku sendiri dalam percakapan panjang dan menyesakkan itu. Percakapan diawali dengan pikiran tak bertanggung jawabku bahwa dia tidak percaya padaku. Bagaimana bisa pikiran konyol itu berkeliaran di kepalaku sepanjang hari kemarin dan merusak selera bicaraku? Sangat kekanakkan!
Aku mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pikir akan dia lakukan kepadaku. Hingga dia bilang, dia bingung dan sedih. Lantas baru aku merasa bersalah. Tidakkah aku seperti orang yang kurang waras sepanjang hari hingga dini hari ini? Menyiksa diriku sendiri dengan pikiran konyol dan berujung dengan menyakitinya. Membuat dia sedih. Membuat dia takut karena merasa telah membuatku sedih, dan membuat dia bingung. Semoga Tuhan membiarkan dia memaafkan kekurangwarasanku.
Yang paling mencengangkan adalah, aku tahu persis dari siapa aku belajar memupuk kepercayaan pada orang selain diriku sendiri. Iya! Aku belajar mengenal lagi rasa percaya itu dari dia, setelah kepergian semua orang yang sangat aku percaya sepanjang hidupku, adikku dan seorang sahabatku.
Setelah adikku, aku tak butuh pujian siapapun untuk setiap kerjaku dengan profesi ini. Dia membanggakanku di depan teman-temannya. Dia bilang aku perempuan paling hebat, dan kepercayaan itu lebih dari cukup untukku. Dia juga yang menyimpan rapi semua keburukanku. Dan kepada sahabatku, aku titipkan setiap persoalan berat di telinganya. Walau kadang dia tidak tahu detilnya dan melewatkan sejumlah cerita. Meskipun juga tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantuku, kecuali mendengarkan. Tapi itu lebih dari cukup. Karena dia hanya mendengarkan, dan tak pernah meneruskan cerita itu kepada orang lain.
Tanpa mengecilkan arti satu atau dua sahabat perempuanku saat ini, tapi aku sudah lama menyimpan semua persoalanku yang terlalu menyedihkan sendiri. Aku menutup rapat semua ketakutan terdalamku di pikiranku sendiri. Aku tak ingin membagi kekhawatiranku dengan orang lain. Aku tak pandai memercayai orang lain apalagi melibatkan mereka untuk setiap urusanku yang terlalu detil dan kelam.
Bagiku, orang lain cukup melihat aku tertawa dengan liar dan tanpa batas. Mereka tak boleh melihat aku muram, meskipun sesekali mereka akan membaca bahwa aku sedang marah dan kecewa. Biar saja mereka bermain dengan pikiran mereka sendiri sementara aku akan menyimpan semua di sini, di hati dan pikiranku. Sampai akhirnya dia datang dan menyapaku hati-hati, menawarkan kebaikan.
Aku ingat kalimat pertama yang dia lontarkan untuk menolongku saat itu, karena aku selalu sibuk merekam semua kebaikan orang lain kepadaku. Aku juga ingat dia selalu mendukungku bahkan ketika kami belum sedekat hari ini. Dia selalu ada, dia selalu siap, dia selalu tak keberatan, dia selalu membuatku tertawa, dia belajar untuk selalu lebih sabar, dia tak pernah meninggalkanku.
Dan yang paling berharga adalah dia mengajariku bagaimana memercayai seseorang. Dengan cara yang mungkin tanpa dia sengaja, dia membuatku memercayainya lebih dari siapapun kecuali keluargaku. Aku menyukai setiap inci kebaikan dan ketulusannya dan aku akan berjanji melakukan hal yang sama. Aku tercengang oleh setiap jengkal perlakuan manisnya kepadaku dan aku akan berusaha membalasnya. Hingga akhirnya tidak pernah aku merasa terpaksa melibatkannya dalam setiap kesenduan dan dia selalu bersamaku. Selalu ada dan selalu percaya.
Tolonglah, jangan pernah berhenti dan jangan pernah lelah meladeniku.