SORE yang sempurna ini sangat tenang, hampir tidak ada angin yang membuat alam meliuk-liuk. Aku berdiri di muka jendela, hal yang sudah jarang sekali aku lakukan. Malam akan segera merambat naik, meninggalkan akhir pekan dan memaksa setiap pekerja untuk melanjutkan rutinitas Senin pagi dan seterusnya.
Mataku melihat ke kejauhan, berusaha menembus langit yang menjadi akhir kemampuan indera mataku. Burung-burung kecil beterbangan menikmati sisa sore setelah hujan. Udara sangat dingin, dan aku menikmati kerinduanku padanya. Kerinduan yang sudah terbayar kemarin dan muncul lagi hari ini begitu saja, tanpa diminta. Dan esok atau selanjutnya, rasa ini pasti akan bertambah lebat yang akan aku nikmati setiap detiknya.
Bercerita, berlama-lama, tertawa, sedih, marah, kecewa, serius, canda, akan aku nikmati pelan-pelan dan aku akan pastikan tak ada satu lembar pun kehidupannya yang terlewat. Lantas aku akan dengan senang hati membaca ulang kisahnya, mempelajarinya, dan menuntaskan pemahamanku tentangnya, meskipun aku tahu tidak ada proses belajar yang akan selesai.
Aku masih akan menanti sore-sore tenang lainnya, menikmati sisa gerimis maupun hujan lebat di waktu itu. Seperti kemarin saat aku melihat hujan. Jakarta petang yang basah dan dingin. Orang-orang berderet di bawah kolong jembatan, bersama kendaraan roda dua yang menumpuk. Sebagian lagi berteduh di atap warung tenda, yang lainnya nekad menerabas deras. Aku duduk di sebuah sudut, melihat hujan.
Hujan yang sama yang dia lihat di tempatnya sebelum akhirnya kami bersua. Kami menyukai hujan tapi tak pernah melihat dan menikmatinya berdua. Terutama belakangan ini, kami sering dipagari oleh hujan yang memaksa setiap kami berteduh seorang diri di tempat kami berada. Sepertinya, melihat dan menikmati hujan adalah hal yang mungkin untuk dilakukan ketika kami menghabiskan pekan yang panjang bersama.
*Hujan adalah lentik jemarimu mengusap luka-dukaku. Mendahului musim, melekat bersama takdir (Anonim)